Penjelasan Islam Mengenai Hukum I’tikaf, Apakah Wajib di Masjid?

Penjelasan Islam Mengenai Hukum I’tikaf, Apakah Wajib di Masjid?

Hadila.co.id I’tikaf adalah sunnah yang dianjurkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada umat muslim, Rasul menganjurkan untuk melakukannya di bulan Ramadan. Namun umat muslim di Indonesia kebanyakan melakukannya di 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

Saat I’tikaf kita dianjurkan untuk berdiam diri merenungi kesalahan kita, mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla, dan beribadah seperti membaca Alquran, dll. Di zaman sekarang, kebanyakan masjid sudah mengkoordinasi kegiatan ibadah yang satu ini. Banyak dari masjid di Indonesia mengadakan majelis ilmu, menyediakan Alquran untuk dibaca, bahkan hingga menyediakan makan sahur untuk para jamaah.

Hukum Qadha Puasa untuk Ganti Fidyah Orang Tua yang Sakit

Lalu bagaimana penjelasan Islam mengenai sunnah yang satu ini? Secara Bahasa (Lughah): artinya adalah al mulaazim artinya berdiam, membiasakan, menetapi (Lihat Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/244. Mawqi’ Ruh Al Islam). Dikatakan, ‘akafa ‘ala Asy Syai’  (Dia menetap di atas sesuatu), artinya dia selalu bersamanya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: I’tikaf adalah menetapi sesuatu dan menutup  diri, dalam hal baik atau buruk . (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Secara Istilah (Syara’): Secara syara’ berarti menetap dalam rangka taat secara khusus dengan syarat khusus pula. (Fathl Qadir, 1/245)   Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: Yang dimaksud di sini adalah menetapi masjid dan menegakkan shalat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

Apakah Niat Puasa Ramadan Harus Dilakukan Tiap Malam?

Sedangkan dalam Alquran disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla, melalui surat Al Baqarah ayat 187. “Janganlah kalian mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang I’tikaf di masjid.” (QS. Al Baqarah : 187)

As sunnah dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu. (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843,  Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

Bachtiar
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat