Faedah Surat Al Lahab, Hukuman bagi Orang yang Menentang Allah dan Rasulnya

Faedah Surat Al Lahab, Hukuman bagi Orang yang Menentang Allah dan Rasulnya

Hadila.co.id – Surat Al Lahab, Surat dalam Alquran yang mengisahkan mengenai Abu Lahab, yakni paman nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah paman nabi yang banyak mentang Nabi Muhammad sebagai Rasulullah dan juga menentang dakwah Nabi. Banyak yang dapat kita petik dari faedah surat Al Lahab ini,

Diantara pelajaran dan faedah surat Al Lahab yang dapat diambil adalah sebab turunnya surat ini. Surat ini turun karena Abu Lahab yang menentang dan justru mendoakan Rasulullah saat rasul mengabarkan pada kaum Quraisy bahwa dirinya adalah pemberi peringatan bagi manusia.

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 1)

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh ia akan binasa. Tidaklah berfaedah harta benda dan apa yang diusahakannya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar. Yang  di lehernya ada tali dari sabut.” [Q.S. Al-Lahab (111): 1 – 5]

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, ketika turun firman Allah, “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” [Q.S. Asy-Syu’ara (26): 214]. Rasulullah Saw mengundang suku-suku Quraisy untuk hadir di bukit Shafa. Anggota kabilah Quraisy datang memenuhi undangannya.

Sangat besar keingintahuan mereka, sehingga jika salah seorang di antara mereka berhalangan hadir, ia mengirim seorang utusan. Di antara yang hadir terdapat seorang tokoh Quraisy bernama Abdul Uzza bin Abdul Muthallib yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Lahab.

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 2)

Rasulullah Saw mulai berpidato di hadapan mereka, “Bagaimana pendapat kalian, sekiranya aku mengatakan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah ini yang berniat menyerbu. Apakah kalian akan mempercayaiku?” Jawab mereka, “Ya, kami percaya, engkau orang yang paling jujur di antara kami!”

Nabi Saw melanjutkan, “Ketahuilah bahwa aku memperingatkan kalian akan datangnya azab yang pedih apabila kalian tidak beriman kepadaku.” Segera Abu Lahab memotong pembicaraan, “Binasa kamu! Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua?” Maka turunlah surat Al-Lahab sebagai jawaban (laknat) terhadap keangkuhan Abu Lahab.

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 3)

Ayat pertama, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh ia akan binasa”. Pada ayat ini disebutkan bahwa yang akan binasa adalah “kedua tangan” Abu Lahab. Ini bahasa kiasan. Yang dimaksud bukan sekadar kedua tangannya yang celaka tapi seluruh tubuhnya.

Kiasan seperti ini kita temukan pula dalam ayat lain, seperti, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan untuk kemusyrikan…” [Q.S. Al Baqarah (2): 173]. Di sini disebutkan daging babi, bagaimana dengan tulang dan minyaknya? Tentu haram juga karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari babi. Ini salah satu gaya bahasa Alqur’an, menyebut sebagian anggota tubuh padahal yang dimaksud seluruhnya.

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 4)

Dalam bahasa Arab, bila disebut “semoga tangannya binasa”, ungkapan ini disebut kinayah (pernyataan terselubung) untuk mendoakan “semoga orang itu binasa” atau bila dikatakan “semoga tangannya rugi” artinya “semoga orang itu rugi”. Jadi, merupakan kutukan Allah Swt kepada Abu Lahab dan siapa saja yang mengikuti sepak terjangnya.

Ayat kedua, “Tidaklah berfaedah harta benda dan apa yang diusahakannya”. Abu Lahab mencurahkan segala usaha dan hartanya untuk menjegal perkembangan Islam (dakwah Rasulullah Saw), namun semuanya sia-sia. “Tidaklah berfaedah harta benda dan apa yang diusahakannya.” Demikianlah firman-Nya.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa akan ada orang yang rela mengorbankan hartanya untuk menggagalkan penyebaran nilia-nilai kebenaran, berani membuat tandingan dengan membangun tempat-tempat maksiat agar orang-orang berpaling dari Islam. Ironisnya, yang melakukannya kadang mengaku muslim.

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 5)

Ayat ketiga, “Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” Ternyata, yang akan masuk neraka bukan hanya Abu Lahab tapi juga istrinya.

Ayat keempat, “Dan begitu pula istrinya, sebagai pembawa kayu bakar”. Istri Abu Lahab digelari Ummu Jamil. Nama aslinya Arwah binti Harb, ia adik kandung Abu Sufyan (seorang pemuka masyarakat Mekah pada masa menjelang kenabian).

Ia sangat membenci Nabi Saw. Ummu Jamil artinya ibu yang cantik, digelari demikian karena istri Abu Lahab memang cantik, tapi sayang hatinya busuk, lisannya kasar, dan perbuatannya nista.

Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an; Text, Translation, and Commentary, hal. 1712 menyebutkan “To carry firewood” may also be symbolical for carrying tales between people to embroil them (yang dimaksud dengan “sebagai pembawa kayu bakar” bisa juga merupakan bahasa simbolis untuk menggambarkan orang yang menyebarkan berita bohong dengan tujuan untuk memanas-manasi orang lain).

Hadist Dhaif Keutamaan Bulan Ramadan, Popular tapi Munkar

Ayat kelima, “Yang di lehernya ada tali dari sabut”. Diantara tubuh wanita yang menjadi nilai keindahan adalah leher. Betapa banyak wanita yang menghabiskan waktu dan biaya untuk merawat keindahan lehernya. Karena itu, leher menjadi salah satu tempat untuk menempatkan perhiasan.

Pada ayat ini disebutkan bahwa pada leher Ummu Jamil akan digantungkan tali dari sabut. Sabut adalah serat-serat ijuk yang biasanya dipakai untuk sapu atau keset. Bayangkan, betapa buruknya penggambaran ini. Biasanya yang bergantung pada leher itu perhiasan, namun pada leher Ummu Jamil justru tali dari sabut. Ini merupakan gambaran keburukan dan kehinaan bagi orang-orang yang suka menyebarkan fitnah dan berita bohong sehingga menimbulkan kebencian dan permusuhan. Wallahu a’lam bish-showwab.<>

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos