Kisah Seorang Mualaf yang Mendapat Hidayah Lewat Sholawat

Kisah Seorang Mualaf yang Mendapat Hidayah Lewat Sholawat

Hadila.co.id Namaku Sri, aku adalah seorang mualaf yang mendapat hidayah dari sholawat yang kudengar, aku lahir dan besar di lereng Merbabu, Ampel Boyolali. Dari keluarga besar yang menganut agama Budha. Kakekku, dari ayah, adalah orang yang terpandang, tokoh agama Budha. Aku dibesarkan di lingkungan yang identik dengan agama yang kusebut ‘kuno’ tersebut.

Sejak kecil entah kenapa aku selalu ‘terpesona’ pada lantunan sholawat yang setiap hari berkumandang dari masjid di desaku. Ada sesuatu yang ‘menarik’. Tahun 1985, saat aku masih kelas 1 SD, terjadi musibah angin topan di kampungku.

Rumahku turut roboh karena bencana tersebut. Saat itu, di tengah musibah, sholawat terdengar makin syahdu. Hatiku rasanya berdesir, antara sedih, rindu dan sunyi. Rasa yang tak dapat kuterjemahkan saat itu.

Salat Sebagai Penolong Seorang Muslim di Dunia Akhirat

Ketika menginjak usia remaja, aku menjadi seorang aktifis di agama Budha. Hampir semua kegiatan yang berkaitan dengan agama Budha aku pasti terlibat aktif di dalamnya. Meskipun demikian, sejatinya hatiku ragu, berontak dan mengingkari karena aku sama sekali tidak memahami arti, makna atapun isi dalam kitab Dhammapada.

Di sisi lain hatiku terus bergejolak ketika mendengar sholawat dan menangkap makna dalam ketegasan kalimat syahadat (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah).

Hidupku rasanya semakin tidak menentu. Saat bulan Ramadan tiba hatiku hampa, pedih, dan resah. Jujur aku iri ketika melihat orang muslim menjalankan ibadah puasa dengan penuh rasa kenyamanan dan keteduhan. Sementara aku, bertahun-tahun hidup dalam kebimbangan.

Faedah Surat Al Lahab, Hukuman bagi Orang yang Menentang Allah dan Rasulnya

Hatiku terus bergejolak. Seolah-olah sedang terjadi perang antara sholawat dan syahadat yang pernah aku dengar dengan ajaran agama dari orangtua. Rasanya ada yang terus mengusik hatiku ketika aku melakukan sembahyang menyembah patung, sedangkan aku tahu dalam kalimat syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Suatu saat pula, nenek buyutku yang beragama Islam dan khusyu’ dipanggil Allah Swt pada tahun 1997 di usia 109 tahun. Sebelum meninggal, beliau sempat berkata kepadaku kalau aku masih Budha siapa nanti yang mau mendoakannya. Saat itu, perkataan itu coba aku abaikan walaupun hati dan pikiran terus mengingat.

Hingga Februari 1998 karena suatu hal aku ‘diberi kesempatan’ tinggal di Magelang (keluarga Ibu). Keluarga ibu di Magelang adalah keluarga muslim. Melihat mereka salat dan melaksanakan kewajiban muslim lainnya membuat hatiku semakin tak menentu.

Bachtiar
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat