Tak Ada Istilah Jodoh yang Tertukar dalam Islam

Tak Ada Istilah Jodoh yang Tertukar dalam Islam

Hadila.co.id Merasa bahwa pasangan orang lain lebih baik dari pasangan kita sendiri, yang diperibahasakan sebagai ‘rumput tetangga lebih hijau’ kadang terlintas dalam benak kita. Bagaimana hal ini bisa muncul? Bagaimana mengantisipasinya? Simak wawancara kami berikut dengan Ustaz Fatchul Arifin.

Memandang orang lain seolah lebih baik dari diri sendiri, bagaimana Islam membahas hal ini?

Secara umum dan dalam kadar tertentu, sifat ini wajar dan baik. Pertama, agar kita tidak menjadi orang sombong, merasa hebat dan lebih baik dari orang lain. Kedua, menjadi motivasi dan inspirasi untuk terus memperbaiki diri (dalam amal ibadah maupun prestasi kehidupan). Ini dengan catatan, jauh dari perasaan keluh kesah dan iri hati. Meski demikian, sifat ini juga ada kekurangannya, yaitu menimbulkan kurangnya rasa syukur atas anugerah Allah pada diri kita.

Sadari 5 Hal Ini agar Hubungan Pernikahan Anda Tidak Terasa Hambar

Lebih khusus terkait pasangan, terkadang seseorang merasa pasangan orang lain lebih baik dari pasangannya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Kalau terkait pasangan, lain lagi ceritanya. Kita tidak boleh berpandangan seperti itu. Kita harus yakin bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah pada kita adalah hal terbaik dan pasti tepat untuk kita. Manusia merasa seperti itu karena manusia sangat lemah dan terbatas pengetahuannya. Sedang Allah lebih tahu. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Q.S. Al-Baqarah: 216]

Seringkali yang menjadikan hati berontak, merasa tidak nyaman atau tidak pas, bermula dari hati yang tidak mau bersyukur.

Apakah hal ini berbahaya? Bagaimana Islam memandangnya?

Sikap memandang pasangan orang lain lebih baik dari pasangan kita, sangat berbahaya. Ini akan menjadi awal kehancuran sebuah rumah tangga. Jangan biarkan tumbuh sikap/ perasaan seperti ini pada hati kita, karena akan menumbuhkan amal/ perilaku lain yang negatif yang sangat dibenci dalam Islam.

Memilih Takdir Mensyukuri Nikmat, Kunci Keluarga Tetap Harmonis

Sebagaimana yang telah saya sampaikan diatas, bahwa sikap ini berawal dari diri yang kurang bersyukur atas semua yang telah dianugerahkan Allah pada diri kita. Kurang lapang dada dalam menerima semua hal dan adanya sifat iri atas nikmat yang ada pada orang lain. Padahal dalam suatu hadis, Rasulullah Saw melarang bersifat hasad (iri) kecuali dalam dua hal. Pertama, hasad kepada orang lain yang diberi oleh Allah ilmu pengetahuan, dan dia mengamalkannya. Kedua, hasad kepada orang yang di beri Allah harta, dan dia menginfakkan untuk mentaati Allah.

Bachtiar
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat