fbpx

Tumbuh Bersama Pasangan

Tumbuh Bersama Pasangan

Hadila.co.id – Perubahan adalah niscaya. Wajar, mengingat manusia adalah makhluk dinamis yang terus bergerak dan berkembang seiring waktu. Tidak dapat dicegah, namun bisa ‘diikuti’. Begitu pun dalam sebuah keluarga (suami-istri). Seiring waktu, perubahan-perubahan peran, karir, tanggung jawab, aktivitas, kematangan intelektual, pemikiran, pengalaman, kedewasaan, dan bahkan ruhiyah dapat terjadi. Perubahan atau sebut saja proses ‘tumbuh’ tersebut akan mempengaruhi pola hubungan dan ritme berkeluarga.

Tumbuhnya salah satu anggota keluarga secara mencolok bisa menjadi masalah tersendiri jika tidak diimbangi oleh anggota keluarga yang lain. Suami atau istri dengan karir yang melejit, pergaulan yang makin luas, wawasan yang makin beragam, pengalaman yang makin kaya tentu membuatnya berubah dalam banyak hal. Keterampilan menangani masalah, pola berpikir, kebutuhan, cara berkomunikasi, penampilan, harapan, cara pandang, akan cenderung menyesuaikan pada peran yang disandangnya. Hal tersebut mesti bijak disikapi oleh pasangan. Karena bisa jadi keluarga yang tadinya harmonis menjadi disharmonis karena perubahan tersebut.

Harmonis Seiring Dinamis

Keluarga yang tumbuh dinamis adalah sebuah berkah. Berarti keluarga tersebut ‘hidup’. Karenanya perubahan apapun, pantas disyukuri kemudian diarahkan bagi dinamisnya keluarga. Tumbuhnya diri suami atau istri memunculkan kebutuhan untuk menyelaraskan langkah agar tetap harmonis.

Ibarat roda kendaraan yang berputar, menuju ke arah yang sama, untuk mendapatkan sebuah pergerakan yang baik. Kadang yang satu mengawali pergerakan, menjadi patokan bagi langkah selanjutnya. Kemudian, tak lama roda yang lain mengikuti dan bergerak bersama secara harmonis. Salah satu cerdasnya seorang istri adalah saat ia bisa mengimbangi suami dalam berbagai hal. Sedangkan terdidiknya seorang istri, adalah baiknya seorang suami. Simpulannya, cerdasnya istri adalah suksesnya suami. Saat suami berada di posisi yang mengawali bertumbuh, istri bersegera mengikuti. Begitu pun saat istri di posisi yang mengawali, suami bersegera mendampingi.

Saat karir suami meningkat, istri bisa mengimbangi dengan memperluas wawasan. Mengetahui seluk beluk bidang suami, mengasah kemampuan bersosialisasi, memperbaiki/ menyesuaikan penampilan dengan suami, serta mengembangkan potensi lain agar bisa sebanding dengan suami. Begitu pun sebaliknya jika istri yang mendahului. Sehingga suami-istri akan selalu nyambung, menjadi teman diskusi, sahabat terbaik, tangan kanan kepercayaan, saling menjadi rujukan dan tempat ‘bersandar’.

Bersama Berencana

Seimbang, sebanding, tidak melulu harus sama. Dalam bahasan ini, kemajuan karir, peran atau tingkat pendidikan suami/ istri tidak melulu harus diimbangi dengan up grade karir dan pendidikan pula. Meski hal tersebut bisa saja dilakukan. Proses penyeimbangan pada dasarnya harus sesuai dengan karakter keluarga. Membuka diri dengan pola komunikasi sederhana, mengungkap harapan masing-masing terhadap pasangan, merupakan langkah awal yang baik. Jangan sampai harapan menjadi laten, tidak terkomunikasikan namun berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari. Bisa jadi jika pasangan kita tahu harapan-harapan kita terhadapnya, ia justru terpantik untuk ‘meninggi’ tumbuh menjulang mengiringi kita.

Meski di awal, tumbuhnya keluarga lebih bersifat spontan, perlu kemudian dengan kesadaran penuh proses bertumbuh ini direncanakan. Berencana bersama menyusun format terbaik sesuai karakter keluarga, memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi. Tidak ada salahnya memulai dari angka nol, dari start masing-masing. Ini akan menjadikan proses tumbuh menjadi lebih terarah dan terjangkau. Kapan istri perlu meningkatkan intelektual atau skill tertentu, kapan istri perlu sekolah lagi, kapan suami siap menerima tantangan baru, kapan anak-anak kemudian bisa diup-grade untuk mengikuti ritme kedua orangtuanya, berapakah anggaran khusus untuk ‘misi bertumbuh’ ini, dan sebagainya.

Acapkali suami takut untuk memulai diskusi mengenai pertumbuhan ini, jika kebetulan sang istri memegang posisi sebagai yang mengawali langkah. Ia merasa “kehilangan harga diri”, dan tidak siap bila sang istri mengambil peran yang cukup besar di rumah. Istri juga takut untuk memulai jika kebetulan sang suami memegang posisi sebagai yang mengawali langkah. Bisa karena rasa rendah diri atau juga khawatir ‘proposal bertumbuh’nya akan ditolak.

Ketakutan ini tidak cukup beralasan. Karena banyak variasi dalam pola hubungan suami-istri yang memungkinkan bagi proses bertumbuh bersama. Dimana keluarga ‘aman’ dan masing-masing personil dapat tumbuh sesuai potensinya. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing. Suami sebagai ‘pemimpin proyek’, dengan pola kepemimpinan sejajar (equal partner), cukup menjadi moderator cerdas yang mengeksplorasi seluruh harapan dan gagasan anggota keluarga (istri) lalu membuat sintesa yang paling baik dan diterima semua pihak.

Tumbuh Bersama Pasangan

Setelah semua direncanakan, prosesnya perlu dikawal. Suami tetap sebagai pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ‘arah dan ‘warna’ keluarga.

Sebagaimana sebuah pohon tumbuh membutuhkan lingkungan yang baik, ruang yang memadai, cahaya matahari dan air yang cukup. Pasangan juga membutuhkan dukungan dalam menjalani proses bertumbuh. Dukungan verbal seperti motivasi, pujian, dan ucapan terima kasih kepada pasangan cukup berarti. Ini adalah pupuk baginya untuk bertumbuh. Perasaan dibutuhkan dan merasa berharga membuat jiwanya ‘hidup’ sehingga potensinya muncul maksimal. Dukungan lain yang lebih konkret, yaitu menyediakan space yang luas bagi pasangan untuk mengembangkan potensi dengan mengurangi ‘beban’nya. Lebih toleran pada hal-hal teknis, namun tetap ‘ketat’ pada hal-hal yang bersifat kualitatif.

Misalnya, saat istri menjalani proses bertumbuh, suami harus memahami semua aktivitas dan kemungkinan kerepotan yang dialami istri. Agar bisa tetap maksimal menjalankan peran utama sebagai ibu rumah tangga, suami harus memahami kapan perlu memberikan ART (Asisten Rumah Tangga). Sehingga ia tidak berkutat pada aktivitas teknis domestik dan maksimal pada tugas pokok seperti membersamai dan mendidik anak. Bagi suami, istri bisa membantu mengurangi bebannya dengan lebih mandiri. Membebaskan suami dari urusan keluarga, agar lebih berdaya guna bagi umat. Semua kembali pada karakter keluarga masing-masing.

Suami menjadi yang terbaik bagi istri, dan istri menjadi yang pantas dibanggakan bagi suami. Meski mungkin waktu bersua menjadi berkurang, meski banyak yang lebih hebat di luar, pasangan tetaplah yang paling dekat dan pas bagi mereka. Yang penting adalah bagaimana suami-istri tetap saling respek dan mempunyai we time (waktu privasi) yang bisa dinikmati berdua dengan cara yang paling disukai berdua. Ujungnya ada pada keselarasan hubungan hingga pada sesuatu yang bersifat immaterial sekalipun; suami-istri terhubung secara emosional dan larut dalam selarasnya doa yang sama untuk tujuan yang sama. Keduanya bertawakal menjaga hubungan dengan Allah, dan menyandarkan semua penjagaan pasangan pada-Nya. Memunculkan sakinah, menggetarkan kembali mawaddah dan mencipta rohmah dalam sebuah keluarga yang matang. <Dimuat di Majalah Hadila Edisi April 2014>

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat