Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain (Bagian 2)

Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain (Bagian 2)

Untuk mencapai kejujuran dan ketulusan iman, setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt, pasti akan diuji oleh-Nya. Baik ujian kehidupan secara umum berupa kekurangan makanan, minuman, pakaian, rasa takut yang mencekam, sakit yang ringan maupun yang berat, dan lain sebagainya maupun ujian dalam meniti jalan dakwah sebagaimana yang dialami oleh para Nabi Saw dan pengikutnya. Ibarat emas, harus ditempa dan dibakar dengan api demi mencapai kualitas yang dikehendaki. Dalam konteks inilah Allah Swt berfirman: 1. Alif laam miim 2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? [Q. S. Al Ankabut (29): 1-2]

Surga bukanlah sebuah harga yang murah. Merupakan anggapan yang salah jika surga bisa diraih tanpa ujian. Maka dahulu para Nabi dan pengikutnya diuji dalam medan dakwah hingga sampai kepada puncak totalitas dalam tawakal dan mereka sangat berharap akan datangnya pertolongan Allah Swt.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [Q. S. Al Baqarah (2): 214]

Semua diuji berdasarkan level keimanan masing-masing. Ujian yang dihadirkan oleh Allah Swt berfungsi untuk memilah dan memilih. Memilah antara mereka yang beriman dengan mereka yang munafik. Kemudian memilih kaum beriman hingga menjadi kekasih Allah Swt. Ujian kehidupan ini mirip sekali dengan ujian sekolah yang harus dilewati oleh para murid, jika mereka ingin naik ke kelas berikutnya. Maka kelak di surga pun manusia berada pada tingkatan yang berbeda tergantung ujian yang mereka alami selama di dunia. “(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. [Q. S. Ali Imran (3): 163]. <Bersambung/Dimuat di Majalah Hadila Edisi januari 2015>

 

Penulis: Ustaz Suhari Abu Fatih, pegiat dakwah dari Klaten

 

 

 

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat