Pensiunan Bahagia: Bersyukur, Tidak Mengeluh, Tetap Berkarya…

Pensiunan Bahagia: Bersyukur, Tidak Mengeluh, Tetap Berkarya…

Pensiun bisa saja menenjadi momok. Ini beralasan karena pensiun berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan penghasilan, pendapatan secara teratur, bahkan fasilitas yang diperoleh selama menjadi karyawan atau pegawai akan berhenti, selesai, berakhir. Namun pensiun sejatinya hanyalah sebuah status. Kalau mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maka pensiun maknanya adalah tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Itu saja…

Mengapa berakhir? Ya karena sesuai dengan aturan perusahaan yang sudah ditetapkan. Karena umur yang telah sampai pada masanya untuk mengakhiri tugas sebagai karyawan atau pegawai. Jika selama ini Anda adalah seorang karyawan, pegawai, pekerja dalam sebuah institusi perusahaan maka pensiun tidak bisa dihindari. Oleh siapapun, dalam pekerjaan apapun.

Masa pensiun pasti tiba. Ketika usia sudah tua, produktivitas menurun. Pensiun, cepat atau lambat pasti datang. Karena tidak ada orang yang bisa kerja sepanjang hayat. Siapapun bakal pensiun. Setiap orang kerja pasti bakal jadi pensiunan. Begitulah…

Akan tetapi, perlu diingat bahwa pensiun bukan berarti berakhir segalanya. Pensiun bukan kiamat. Apalagi bagi mereka yang masih memiliki tanggungan keluarga, merasa badan masih mampu bekerja, otak masih mampu menghasilkan karya. Pensiun itu bukanlah sebuah tempat.

Pensiun hanyalah sebuah keadaan, kondisi, dan sekali lagi, sekadar status akibat berakhirnya hubungan kerja seseorang dengan instansi tempatnya dulu bekerja. Setelah itu, pensiunan harus melanjutkan hidup dan kehidupannya. Pensiun dari pekerjaan, bukan berarti “pensiun” menjadi manusia. The show must go on… hingga ajal menjemput.

Bulan April lalu, saya secara resmi dipensiun sebagai seorang karyawan. Bahkan sepuluh tahun silam, ketika saya berada di puncak karir, setidaknya karena diamanahi menjadi Pemimpin Redaksi Harian Solopos, tiba-tiba saya mengalami kecelakaan dan membuat saya lumpuh sepanjang hayat. Beruntunglah saya, dalam kondisi lumpuh tetap dipekerjakan tidak langsung dipensiun.

Semua itu tentu selain kepedulian dari banyak orang, rasa optimis pada diri sendiri untuk terus melanjutkan hidup dan kehidupan dengan rasa syukur serta bahagia menjadi kunci utama agar bisa mengatasi segala permasahan yang harus dihadapi. Alhamdulillah, hingga hari ini saya bisa terus berkarya berkat kiprah masa lalu yang ternyata berbuah di masa sekarang.

Bersyukur, Jangan Mengeluh

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat