fbpx

Mendidik Anak Membuat Pilihan dengan Tepat

Mendidik Anak Membuat Pilihan dengan Tepat

Hadila.co.id — Ada data menarik yang saya dapatkan dari sebuah media massa bahwa pemilih pemula pada pileg dan Pilpres tahun ini (2014) lebih dari 40 juta. Jumlah yang sangat besar ini tentunya memunculkan harapan sekaligus kekhawatiran. Harapan untuk mendapatkan suara mereka bagi para calon legislatif dan kekhawatiran dari para tokoh masyarakat dan orangtua tentang kemampuan mereka membuat pilihan yang baik.

Sebagai seorang pendidik, saya agak heran mengapa kekhawatiran ini baru muncul menjelang Pemilu ini, padahal dalam kehidupan sehari-hari para anak muda tersebut sudah dituntut untuk membuat pilihan penting, tanpa mereka mendapat bimbingan yang memadai bagaimana cara membuat pilihan yang baik.

Mereka harus memilih teman yang baik, memilih baju, memilih jenis potongan rambut, memilih tokoh idola dan pilihan-pilihan yang lainnya. Mari kita mencoba melihat fakta di masyarakat, perilaku para orangtua di dalam mendidik anak sekaligus belajar bagaimana membimbing anak untuk membuat pilihan yang baik.

Pertama, sering kali kita melihat para orangtua kurang memberi kesempatan bagi anak untuk memilih. Bahkan pada hal-hal yang sangat sederhana dan tidak prinsip. Semua telah diputuskan dan dipilihkan orangtua. Jenis sepatu yang dipakai oleh anak, susu yang diminum, sekolah tempat belajar anak, dan lain-lain. Padahal setiap pilihan-pilihan yang dibuat oleh anak adalah cara mereka belajar untuk memilih.

Pada masalah-masalah prinsip mungkin kita tidak memberi kesempatan tersebut, tetapi pada hal-hal yang kurang prinsip seperti jenis sepatu, pakaian yang dikenakan dan tas yang dibawa ke sekolah, kita dapat memberi kesempatan bagi mereka untuk memilih. Ada beberapa orangtua yang bersikap lebih bijak, melakukan modifikasi pilihan dengan memilihkan 4 alternatif sekolah, dan anak diminta untuk memilih satu di antara sekolah alternatif pilihan orangtua

Kedua, cara komunikasi orangtua yang serba melarang dan memerintah, mendorong anak untuk tidak mempunyai pendapat dan ide sendiri. Ketiadaan ide dan pendapat dari anak akan menghambat bagi mereka untuk memilih. Seperti komunikasi orang tua kepada anaknya, “Jangan bermain dengan temanmu yang itu… Segera kerjakan PRmu…”

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat