fbpx

Mencari Kapal dengan Nakhoda Satu Hati

Mencari Kapal dengan Nakhoda Satu Hati
Ilustrasi Sumber: Freepik

Tidak sekali dua menemani sahabat yang perahu kehidupannya hampir pecah. Entah kenapa, sering berada pada posisi sebagai saksi yang menyaksikan pelan-pelan tenggelamlah kapal. Pada saat saya pribadi belum menikah, harus menjadi saksi perjuangan sahabat mempertahankan biduknya. Ada perempuan lain yang dibawa suami ke dalam rumah tangga mereka. Dengan alasan kasihan dan ingin menolong, suami sahabat meminta sahabat menerima ‘tamu’ itu dan  merawatnya. Pada saat sahabat baru melahirkan anak pertama mereka.

Biduk yang coba dipertahankan dengan berbagai cara itu akhirnya pecah juga. Suami mengklaim kalau pernikahan itu gagal karena orang tua sahabat terlalu banyak campur tangan dengan kehidupan mereka. Sahabat sendiri tidak banyak berkomentar selain menyesali kekurangannya sebagai istri pertama yang berubah-ubah perasaan. Kadang menerima calon madu, kadang menolak. “Ini yang membuat dia marah,” jelas sahabat. Saya hanya bisa mengumpat dalam hati. Lelaki waras mana yang tega meminta istrinya merawat calon istri kedua di rumah mereka? Sesakit apa pun dia.

Mantan telah berlayar dengan kapal kedua, ketiga, bahkan keempat. Sedangkan sahabat lama berjuang sendiri membesarkan anaknya. Setelah lebih satu dekade barulah Allah takdirkan dia bertemu dengan lelaki yang berbesar hati menerimanya, janda dengan satu anak.

Ini hanya salah satu kisah yang saya saksikan. Tidak sekali dua merawat kenalan korban kekerasan dalam rumah tangga. Di Inggris bahkan terpaksa membawanya ke dokter karena dia melemparkan dirinya dari atas tangga dengan harapan anak dalam kandungannya ‘drop’. Dia tidak ingin punya bayi karena pernikahannya dengan suami selalu penuh pertengkaran. Saya melihat biru-biru tubuhnya. Suami saya yang sangat pendiam terpaksa turun tangan mengajak lelaki itu berdiskusi. Saya bahkan sampai mengancamnya, jika kekerasan terjadi lagi, saya akan panggil polisi. Di Inggris, hukum sangat keras pada pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Pemerintah juga mendukung eksistensi ‘safe house’ bagi perempuan yang terancam.

Di Indonesia, rumah kami pernah diketuk oleh yang sedang dikejar suaminya. Tangannya berdarah, kena lempar piring. Dengan gemetar yang tidak bisa disembunyikan, dia membawa lari bayi perempuannya dan meminta perlindungan ke rumah kami. Katanya, suaminya demikian jika sedang mabuk. Saya dukung dia untuk bercerai karena kekerasan fisik itu bukan yang pertama. Apalagi ada banyak cerita tentang perempuan lain. Dia menolak. Dia yatim yang tidak memiliki keluarga dekat. Jika bercerai, apa yang akan terjadi dengannya dan anaknya. “Semoga suami berubah,” harapnya.

Hampir selalu, usai kasus-kasus banyak diskusi dengan pasangan, apa sebab dari berbagai hal di atas? Lalu, apa pelajaran yang bisa diambil? Bagaimana yang lain menghindari kondisi itu?

Saya dan suami selalu berpandangan, ‘it takes two to tango’, tangan selalu perlu dua hingga bisa bertepuk. Terlepas dari bakat ‘gila’ sebagian lelaki, pihak perempuan juga punya peran. Entah apa, tapi pasti ada. Walau saya cenderung membela perempuan dalam kasus-kasus di atas, kesalahan terburuk yang bisa saya sematkan pada mereka ialah mereka salah menerima lamaran. Sejatinya, lelaki-lelaki di atas jika datang, harus dijauhi, bukan diterima.

Ifa
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat