Membangun Kekayaan Jiwa

Membangun Kekayaan Jiwa

Rasulullah Saw bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya materi, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Ra]. Hadits ini shahih diriwayatkan Bukhari dalam Ar-Riqaq (11/6446) dan Muslim dalam Az-Zakah (2/120/726).

Dalam hadis ini Rasulullah Saw menjelaskan dua macam kekayaan. Kekayaan materi yang ditandai dengan banyaknya fasilitas materi dan kekayaan jiwa yang membuat seorang muslim tidak lagi tergoda oleh gemerlap kekayaan dunia. Melalui sabdanya, beliau seakan-akan ingin kita mendayagunakan kekayaan materi untuk merealisasikan kekayaan jiwa dan hati.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Sesungguhnya Kami menurunkan harta untuk menegakkan salat dan menunaikan zakat. Seandainya Bani Adam memiliki sebuah lembah, niscaya dia menginginkan lembah yang kedua. Seandainya dia memiliki dua lembah, niscaya dia menginginkan yang ketiga. Sungguh, tidak ada yang bisa memenuhi mulut Bani Adam kecuali tanah, kemudian Allah akan mengampuni siapa pun yang mau bertobat.” [Ash-Shahihah:1215]

Kekayaan Materi Tidak Dianggap Sebagai Kekayaan

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya kekayaan materi.” Penggalan hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak memandang kekayaan materi sebagai kekayaan sejati. Ada banyak hikmah dari penggalan hadis ini.

Pertama, kekayaan materi adalah kekayaan yang disebabkan faktor eksternal manusia. Sedangkan kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan yang muncul dari dalam diri manusia.

Kedua, kekayaan materi jika tidak diiringi kekayaan jiwa, maka pemiliknya akan tetap miskin dan semakin serakah. Rasulullah Saw bersabda, “Dua serigala yang lapar dilepaskan di tengah kawanan domba tidaklah lebih membahayakan daripada ketamakan seseorang kepada harta dan kehormatan agamanya.” [HR. Ahmad]

Ketiga, kekayaan duniawi adalah musuh bebuyutan paling berbahaya yang harus senantiasa diwaspadai. Seseorang yang menumpuk-numpuk kekayaaan sama saja dengan mencari-cari musuh yang siap mencelakakannya setiap saat.

Keempat, kekayaan materi seperti emas, perak, kendaraan, binatang ternak, dan sawah ladang adalah sesuatu yang fana dan hina. Ibnu Abbas berkata, “Nabi Saw melewati seekor bangkai kambing yang sudah dicampakkan para pemiliknya, lalu beliau bersabda,‘Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Sungguh, dunia lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing ini bagi para pemiliknya. [HR. Ahmad]

Kelima, kekayaan materi tidak akan dibawa pemiliknya ke alam kubur. Rasulullah Saw bersabda,“Ada tiga hal yang mengiringi jenazah. Dua di antaranya kembali dan yang satu tetap menyertainya. Dia diiring oleh keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap menyertainya.” [HR. Bukhari]

Keenam, kekayaan materi hanya akan mempersulit hisab dan mengurangi kenikmatan di akhirat. Rasulullah Saw. bersabda,“Ibnu Adam membenci sedikit harta, padahal sedikit harta lebih memperingan hisab.” [HR. Ahmad]

Ketujuh, kekayaan seringkali menyeret pemiliknya ke dalam dosa dan menjerumuskannya ke dalam api neraka. Rasul Saw bersabda,“Apakah mungkin seseorang yang berjalan di air lalu kedua kakinya tak basah oleh air? “ Mereka menawab, “Tak mungkin, Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Begitu juga pemilik harta dunia, dia tidak akan selamat dari dosa-dosa.” [HR. Baihaqi]

Kedelapan, kekayaan materi adalah kekayaan yang diapit kefakiran sebelumnya dan kefakiran setelahnya. Seorang Muslim yang bijak hendaknya tidak terkecoh oleh kekayaan materi sebagai tujuan akhir hidupnya.

Tingkatan Kekayaan Jiwa

Kekayaan jiwa adalah kekayaan yang diapit oleh dua kekayaan yaitu kekayaan hati dan kekayaan rabani. Siapa pun yang dapat meraihnya, dia tidak akan pernah menjadi miskin selama-lamanya. Tiga jenis kekayaan menurut Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah.

Pertama, kekayaan hati. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan hati, dan kefakiran adalah kefakiran hati.” [HR. An-Nasa’i]. Untuk meraih kekayaan hati, kita harus merealisasikan syaratnya yakni selamat dari ketergantungan pada sebab dan merasa tenteram dengan Allah; tunduk dan pasrah pada hukum dan ketentuan Allah; dan terbebas dari sikap permusuhan.

Kedua, kekayaan jiwa. Rasul Saw bersabda, “Akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Syarat yang harus direalisasikan untuk meraih kekayaan jiwa yakni keistimewaan dalam menjalankan syariat; selamat dari belenggu syahwat; dan terbebas dari niatan riya’.

Ketiga, kekayaan rabani. Yaitu kekayaan karena membutuhkan Allah semata sebagai tingkatan kekayaan yang tertinggi karena kefakiran kita kepada Allah adalah kekayaan yang sejati. Kekayaan rabani ini memiliki tiga tingkatan yakni, menyaksikan penghormatan Allah kepada kita; senantiasa menyaksikan keagungan Allah; dan meraih kebahagiaan dengan wujud Allah.

Seorang muslim hendaknya mengerahkan segenap upayanya untuk meraih kekayaan hati, kekayaan jiwa, dan kekayaan rabani ini, karena semua itu adalah kekayaan yang tinggi. Sedangkan kekayaan materi hanya kekayaan yang rendah, sehingga kita hendaknya mampu menjadikannya sebagai sarana untuk meraih kekayaaan yang hakiki dan lebih besar dari itu.

[Penulis: Fakhruddin Nursyam, Lc. Penulis buku Trilogi Arbain: Tarbawiyah, Da’awiyah, dan Ruhiyah. Dimuat di Majalah Hadila Edisi Maret 2017]

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos