Liburan Bernilai Lebih

Liburan Bernilai Lebih

Hadila.co.idSaat liburan tiba semua menyambut dengan sukacita. Liburan adalah masa untuk refreshing dan mengembalikan kehangatan keluarga setelah disibukkan dengan aktivitas bekerja dan belajar. Bagaimana Islam mengatur hal ini? Liburan seperti apakah yang dituntunkan? Berikut wawancara kami dengan Ustadz Ulis Tofa M. Ali, Lc., alumnus bidang syariah LIPIA Jakarta, salah satu pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, aktivis pendidikan dan dakwah ELNUSA.

Bagaimana Islam mengatur fitrah manusia, khususnya kebutuhan untuk liburan?

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” [QS. Ar-Rum: 30]. Pada dasarnya tabiat manusia sebagaimana yang Allah Swt ciptakan, tidak suka beban yang memberatkan. Kadang jenuh dan lelah menyergap relung jiwa, sehingga menyebabkan drop dan gagal. Manusia membutuhkan suasana yang bisa merehatkan jiwa, otak, dan fisiknya yaitu liburan.

Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya (wajib) bagi kalian bekerja atau beramal yang tidak memberatkan. Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian sendiri merasa bosan.”[HR. Muslim]

Rasulullah Saw juga bercanda bersama para sahabat dalam suatu kesempatan untuk menghibur dan rehat diri.

Hak Anak dalam Islam (Bag. 1)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata: “Para sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, Engkau bercanda dengan kami? Beliau menjawab: “Sesungguhnya saya tidak berkata kecuali kebenaran.” [HR. Imam At-Tirmidzi]

Imam Abu Daud dalam kumpulan marasilnya mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian sesaat kemudian sesaat lagi.” Sedang, Imam An-Nawawi: “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.”

Beberapa nash tersebut menggambarkan bahwa Islam memperhatikan fitrah dan keseimbangan dalam hidup. Menganjurkan muslim untuk bekerja juga berlibur, beribadah juga rihlah atau refreshing. Menggapai sukses di dunia juga di akhirat.

Liburan yang seperti apakah yang sebaiknya dilakukan oleh seorang muslim?

Allah Swt berfirman berkaitan dengan anjuran untuk mengadakan perjalanan atau traveling di muka bumi (salah satu contoh kegiatan berlibur): “Katakanlah: “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” [QS. An-Naml: 96].

Mulainya dari Adab

Berlibur pada dasarnya adalah menggunakan waktu dengan bersantai, rihlah atau refreshing, terbebas dari rutinitas keseharian, namun tetap bernilai ibadah dan bermanfaat. Tidak ada yang sia-sia dalam setiap jenak-jenak kehidupan seorang muslim. Liburan juga sebaiknya menjadi momentum untuk mengembalikan kehangatan keluarga bagi yang sudah berkeluarga, mempererat pertemanan, merefresh otak, fisik juga ruhani.

Dalam kaitan dengan kehidupan keluarga, bagaimana sebaiknya liburan itu dirancang?

Dalam mengisi liburan, ada baiknya ditentukan topik dan target. Untuk memastikan sisi kesenangan, ibadah juga manfaat terpenuhi. Misalnya: topik liburan Qur’an, targetnya lancar membaca Al-Qur’an, tema kisah nabi, tema ‘cuci isi lemari’ untuk target sosial menyumbangkan baju layak pakai, tema outbound, tema cinta binatang, dll.

Contoh lain dari bentuk liburan yang menyenangkan adalah menjalankan hoby olahraga, berenang, rihlah, berkemah, dll. Akan lebih bermakna jika acara didesain fun tapi mendidik, lebih berkesan jika dibarengi dengan adanya pembagian hadiah. “Saling berbagi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai.”[HR. Imam Bukhari]

Tips Makan Bersama Anak

Bagi keluarga yang sudah mapan dan terkondisikan, ada sarana bernilai lebih yang memenuhi semua tujuan berlibur, yaitu melaksanakan Umrah. Bernilai bagi ruhani dan berlipat pahalanya. Rasulullah Saw bersabda: ”Tidak dianjurkan untuk melakukan rihlah atau kunjungan (dalam rangka ibadah) ke suatu tempat, kecuali ke tiga masjid (saja), yaitu Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjid Al-Aqsha” [HR. Imam Muslim].

Dalam hadist lain, Rasulullah Saw juga bersabda: “Dari satu Umroh ke Umroh yang lain menjadi penebus dosa antara waktu keduanya, selagi tidak berbuat dosa besar.” [HR. Imam Bukhari dan Muslim].

Hal apa saja yang harus disiapkan?

Agar liburan kita berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, menyenangkan dan bernilai lebih ada beberapa hal yang hendaknya kita siapkan.

Pertama, Merencanakan budget. Kita bisa memasukkan persiapan dana liburan sebagai salah satu tujuan keuangan kita jauh-jauh hari. Kedua, buatlah tujuan, tema dan acara liburan yang menarik. Ketiga, tentukan objek, waktu (lamanya) dan tempat menginap. Keempat, selesaikan pekerjaan kantor sebelum berlibur keluarga. Kelima, Jaga kesehatan kita dan keluarga.

Nah untuk menemani liburan sahabat semuanya, ada baiknya membawa buku bacaan untuk menemani selama perjalanan atau pun untuk mengisi waktu luang di tengah-tengah liburan sahabat semua.

5 Bingkisan untuk Pendidik

Untuk ayah dan bunda ada baiknya membawa Majalah Hadila agar selama liburan ayah dan bunda tetap bisa belajar mengenai keluarga yang Islami dan juga mengupdate informasi dan juga wawasan ayah dan bunda.

Lalu untuk kakak yang sudah mulai beranjak dewasa, ayah dan bunda dapat membekalinya Majalah Smartteen agar kakak tetap mendapat bacaan yang baik selama liburan, selain itu dengan membaca smartteen juga akan membantu kakak tetap menjadi pribadi yang dewasa dan juga Islami.

sedangkan untuk si kecil ayah dan bunda bisa membekali dengan Majalah Cilukba dan Cilukba Junior, Majalah Cilukba dapat membantu ayah dan bunda memberi kesibukan bagi si kecil sekaligus memberikannya pengetahuan baru yang menarik dan tentunya lebih Islami.

(Sumber: Majalah hadila Edisi Mei 2014)

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos