Ketulusan Istri Berbalas Surga

Ketulusan Istri Berbalas Surga

Hadila.co.id — Di kalangan laki-laki, manusia yang pertama masuk surga adalah Rasulullah Saw, sedangkan di kalangan perempuan, para Ummul Mukminin—istri-istri Rasulullah. Selain itu, ada satu nama yang disebut Rasulullah sebagai perempuan pertama masuk surga setelah Ummul Mukminin.

Suatu hari, Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah bertanya kepada ayahnya perkara siapakah perempuan yang pertama masuk surga. Rasulullah menjawab, “Jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Madinah. Tidak banyak yang mengenalnya. Hal ini membuat Fatimah penasaran, hingga membuatnya meminta izin Rasulullah untuk mengunjungi kediaman Mutiah.

Ketika mengunjungi Mutiah, Fatimah mengajak putranya. Saat sampai di rumah Mutiah, ia mengetuk pintu dan memberi salam. Dari balik pintu, Mutiah bertanya, “siapa di luar?”

“Saya Fatimah, putri Rasulullah,” sahut Fatimah.

“Ada keperluan apa?” tanya Mutiah lagi, masih dari balik pintu yang belum dibuka.

Fatimah menjawab ia hanya ingin bersilaturahmi. Mutiah pun mengajukan satu pertanyaan lagi, “Anda seorang diri atau bersama seseorang?”

“Saya bersama putra saya,” jawab Fatimah.

“Maaf Fatimah, saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki. Silakan datang kembali besok setelah saya mendapat izin,” pinta Mutiah. Fatimah pun pergi meninggalkan rumah Mutiah.

Hari berganti, Fatimah beserta putranya kembali ke rumah Mutiah. Kali ini ia disambut dengan baik, sebab Mutiah telah mendapat izin suami. Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, namun semuanya tertata dengan rapi dan bersih.

Fatimah mengamati keadaan, tetapi ia tak menemukan hal istimewa. Mutiah justru tampak sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu. Saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ujar Mutiah.

Mendekati waktu makan siang, semua makanan sudah tersedia. Mutiah pun siap mengantar pada suami yang bekerja. Ada sesuatu yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah juga membawa cambuk. Lantas, Fatimah pun bertanya, “untuk apa cambuk itu?”

Mutiah pun menjelaskan cambuk tersebut bisa menjadi senjata jika suami merasa masakannya tidak enak. Ia rela punggungnya dicambuk. “Berarti saya tidak bisa melayani suami dengan baik,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Bukan, ia orang yang penuh kasih sayang. Ini saya lakukan karena keinginan sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka.” Jawaban Mutiah membuka misteri yang dicari Fatimah.

“Saya hanya mencari rida suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami baik, dan suami rida pada istrinya,” imbuh Mutiah.

Mutiah memberi banyak pelajaran, bahwa apa yang ia lakukan bukan simbol perbudakan suami kepada istri. Melainkan, suatu cermin ketulusan dan pengorbanan yang patut mendapat balasan surga. <>

Sumber: diolah dari berbagai sumber.

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos