fbpx

Jodoh Pasti Bertamu

Jodoh Pasti Bertamu

Jodoh. Kata yang cukup familiar kita dengar, meski sebenarnya tidak ada penggambaran saklek mengenai definisinya. Bahasa Indonesia hanya bisa menjelaskan kata ‘jodoh’ sebagai ‘cocok dan sesuai’. Definisi yang tentu tidak cukup untuk menjelaskan konteks ‘jodoh’ secara mendalam. Karena cocok dan sesuai belum tentu jodoh, meski kalau jodoh pasti cocok dan sesuai. Dan jodoh pasti bertamu

Jodoh itu urusan Allah, sudah pasti ditentukan Allah, sehingga logikanya kita tidak perlu khawatir tidak kebagian. Namun ternyata bagi lajang yang berusia di atas 25 tahun, logika tersebut tidak cukup menenangkan.

Pertanyaan-pertanyaan seputar jodoh yang terasa menyudutkan, omongan-omongan miring dan gosip-gosip para tetangga yang membuat gerah, jumlah teman sebaya lajang yang kian bisa dihitung dengan jari, tampilan foto-foto keluarga nan bahagia di sosial media yang menyulut iri, adik perempuan yang sudah memberi tanda-tanda akan segera dilamar, dan masih banyak hal lainnya; membuat logika tersebut tak cukup menjadi penyeimbang keresahan. Terlebih saat kondisi mental (ruhani) sedang tidak fit.

Begitu pun bagi para orang tua dari si lajang. Cemas, tatkala memiliki anak lajang di usia matang, sementara teman-temannya sudah mulai membangun rumah tangga dan punya anak. Khawatir, saat anak menjadi trending topic di acara-acara pertemuan keluarga lantaran belum menikah. Resah, panik, atau yang lebih ekstrim mungkin paranoid, karena lintasan pikiran negatif tentang kemungkinan penyimpangan bisa jadi menghampiri.

Menurut Ustaz Tri Asmoro Kurniawan, Konsultan Nasional Keluarga Sakinah, kecemasan orang tua saat jodoh anaknya tak jua datang sifatnya wajar, sepanjang dalam porsi yang tidak berlebihan (hingga memaksa anak untuk menikah). Namun meski demikian, kecemasan ini seharusnya tidak dipelihara, karena justru akan bersifat kontraproduktif, baik pada diri orangtua ataupun anak. Orang tua dan anak harusnya lebih fokus pada kesiapan (bersegera menyiapkan), bukan pada ‘kapannya’. Harus ada keyakinan kuat bahwa jodoh pasti bertamu.

“Menikah adalah urusan yang sangat serius. Maka disebut sebagai menyempurnakan setengah din. Tujuan menikah kan akhirat, bukan sekadar urusan ranjang. Ada surga neraka di dalamnya. Karena itu, yang terpenting adalah mengetahui alasan, kenapa seorang anak itu enggan atau belum menikah. Karena usia matang, bukan jaminan matangnya mental,”ungkap Ustaz Tri Asmoro Kurniawan.

 

Tak Ada Kata Terlambat

Dalam kacamata tauhid, tidak ada istilah terlambat mencari jodoh. Pemahaman ini harus dimiliki oleh orang tua (juga anak) agar tidak ada kegelisahan. Dua hal yang harus dipahami dan diyakini, yaitu bahwa seluruh ciptaan Allah Swt pasti berpasangan, dan bahwa berputus asa (atas jodoh) justru akan membuat terputus dari rahmat Allah Swt. Allah Swt berfirman, “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” [Q. S. adz-Dzariyat (51): 49]

Saat anak tak kunjung menikah, memastikan pemahaman ini dimilikinya, jauh lebih penting ketimbang sekadar panik. Karena saat orangtua panik, maka energi negatifnya justru bisa memengaruhi anak. Belum datangnya jodoh sudah cukup menjadi masalah bagi anak, maka kepanikan orang tua bisa jadi akan lebih membebaninya.

Pravissi Shanti, M.Psi, Dosen Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, mengungkapkan bahwa kecemasan orang tua yang terbaca oleh anak, bisa membuat anak merasa ada yang kurang dengan dirinya. Sedih, kurang percaya diri, menarik diri dari lingkungan, sembarang memilih, terjerumus dalam maksiat. Bahkan depresi dan (justru) tak ingin menikah, bisa jadi muncul kemudian.

Namun, hal ini bukan berarti bahwa orang tua tidak boleh turut andil dalam perkara jodoh anak. Campur tangan orang tua dalam perkara jodoh anak, justru diperintahkan sebagai wujud tanggung jawabnya. Allah Swt berfirman, ”Kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” [Q. S. An-Nur (): 32]

Campur tangan itu adalah dengan ‘menyiapkan’ jodoh anak dan menjadi energi positif bagi anak saat mendampinginya dalam menjemput jodoh. Karena jodoh pasti bertamu.

Siapkan Jodohnya                                                          

Orang tua memang tidak bisa menentukan atau memaksakan jodoh anak. Namun, sejatinya orang tua justru telah menjadi ‘penentu’ jodoh anak , bahkan sejak anak belum dilahirkan.

Rasulullah Saw bersabda,“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keturunan (nasabnya), kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.”[H. R. Muslim]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat