Implementasi Syukur: Tidak Mengeluh dan Rela Berbagi

Implementasi Syukur: Tidak Mengeluh dan Rela Berbagi

Hadila.co.id — Kampung Ketapang, kalau pagi begitu adem. Pepohonan yang masih banyak berdiri menambah kesan keademan itu. Belum lagi embun pagi yang masih mudah ditemui di daerah pegunungan. Luqman senang betul tinggal di Ketapang. Di pagi hari, dia kadang sempatkan jalan bareng Wirda dan istrinya menikmati area persawahan atau perkebunan. Tidak terbayang oleh Luqman, kalau Kampung Ketapang itu berada persis di pinggiran Kota Jakarta, yang macet, panas, dan semrawut.

Namun, keindahan Kampung Ketapang juga boleh jadi pelan-pelan akan tergusur oleh kebutuhan orang-orang luar Ketapang akan lahan tempat tinggal. Buktinya tidak sedikit kebun yang semula ditanami berbagai tanaman berubah menjadi kontrakan.

Sewaktu jalan-jalan menyusuri pematang sawah, Maemunah, istri Luqman, memberi tahu bahwa Basri, adiknya yang berusia 6 tahun, mau beli celengan. “Buat nabung, katanya. Dan kalau tabungannya udah banyak, katanya, mau bantu orang yang sakit”.

Lihat keinginan Basri, kalau tabungannya banyak entar buat bantu orang sakit. Sekarang lihat diri kita. Betapa sekarang kita lupa bagaimana cara menolong orang lain. Kita sibuk mempersiapkan kemewahan untuk kita nikmati dalam kesendirian. Kita sibuk mengumpulkan harta agar kelak bisa hidup senang sendiri, bukan agar bisa bantu orang. Bahkan saking sibuknya mengumpulkan harta, kadang kita jadi lupa bagaimana cara menikmatinya. Bagi sebagian kita, jadilah kenikmatan itu ada pada pengumpulan harta, bukan pada penikmatan harta itu sendiri.

Allah berfirman melalui hadis qudsi-Nya, bahwa siapa saja yang berkhidmat kepada Allah, Allah akan penuhi segala hajatnya dan menjadikannya bahagia. Namun, bagi siapa saja yang sibuk dengan urusan dunianya, maka Allah akan menyerahkannya pada dunia, hingga dunia menyibukkannya dan jadilah dia orang yang menderita.

Di lain hal Allah berjanji, siapa yang bersyukur akan Dia tambah segala nikmat – Nya, sedang barang siapa yang tidak bersyukur akan Dia beri azab. Nah, implementasi syukur itu selain berbentuk tidak mengeluh dengan keadaan, juga rela berbagi. Dan tampaknya kita lupa dua-duanya, alias mengeluh juga, pelit juga. Lihat saja, di sana-sini terdengar keluhan begitu mudah keluar dari bibir kita. Kurang air, kurang enak, kurang mewah, kurang nyaman, kurang lapang, kurang besar gaji, kurang untung, dan sebagainya. Lihat juga tangan kita, jarang sekali ia terbuka, terulur. Lebih sering terkepal tanda pelit. Mudah-mudahan saya salah. Wassalam.

 

[Oleh: Ustaz Yusuf Mansur | Dimuat Majalah Hadila Edisi September 2014]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos