Guru yang Selalu di Hati

Guru yang Selalu di Hati

Hadila.co.id — Pagi ini saya membuka facebook. Di inbox, ada satu pesan. Saya pun membukanya dan subhanallah, teman lama saya saat kuliah dulu yang terakhir bertemu sekitar 10 tahun lalu. Teman yang berasal dari Timur Tengah ini menanyakan keadaan saya dengan bahasa yang kaya doa dan sentuhan hati.

Saya pun membuka wall nya, dan kembali kejutan itu menggedor-gedor hati saya. Teman saya itu menuliskan tentang salah satu syekh Masjid Nabawi (rahimahullah, beliau sudah meninggal saat kami masih di Madinah), yang dulu kami biasa duduk di masjid beliau dari Maghrib sampai Isya. Tiba-tiba suasana yang sebenarnya sering hadir pada diri saya itu, kembali tergambar dengan sangat jelas. Kerinduan kepada guru kami itu membuncah. Air mata pun tak terbendung.

Berikut saya nukilkan terjemahan tulisan teman saya yang semoga Allah selalu memberkahinya,

Syekh Athiyyah Muhammad Salim yang saya kenal: Sungguh saya mengenal Syekh Athiyyah sebagai seorang ahli ilmu, ensiklopedi yang begitu menonjol. Beliau adalah ahli fikih yang sangat menguasai permasalahan detailnya. Beliau adalah ahli ushul fikih yang membuat kaidah-kaidah ilmu syariat. Beliau adalah ahli maqashid yang memahami roh syariat dan kandungannya. Beliau adalah qodhi yang mengumpulkan antara fikih jiwa dan fikih perbedaan. Beliau adalah ahli tafsir yang jika telah mulai menafsirkan Al Quran, beliau berputar jauh dan mengumpulkan untuk Anda mutiara-mutiara siapa yang hadir di majlisnya di Masjid Nabawi, pasti merasakan pancaran roh ajaib yang menyentuh setiap hati. Nasihat yang paling sering beliau sampaikan kepada kami adalah menghormati ulama dan memuliakan mereka.

Ya Allah rahmatilah Syekh kami. Letakkan beliau di lapangnya Surga-Mu. Dan Berikan balasan pahala terbaik bagi seorang syekh yang telah berjasa pada murid-muridnya. Allahumma Amin…

Sungguh semua tulisan itu benar. Bahkan barisan kata-kata tak akan mampu menggambarkan rasa dan tak memberikan semua hak beliau. Rahimahullah….

Bahkan saya secara pribadi belum pernah menjumpai sampai hari ini seorang ahli ilmu yang menggabungkan antara kedalaman ilmu dan keluasan pengetahuan melebihi beliau serta sentuhan jiwa yang begitu lembut dan menyentuh. Saya teringat saat mendengarkan kaset di mana beliau sedang menguji disertasi S3 Syekh DR. Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi (sekarang salah satu kibar ulama Saudi dan pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, juga salah satu syekh di Masjid Nabawi). Disertasi luar biasa yang berjudul Hukum Bedah dalam Tinjaun Fikih itu, diuji dan dikritisi sangat dalam oleh Syekh Athiyyah.

Sangat terlihat kedalaman ilmu dan keluasan wawasan. Teringat saat beliau bertanya dari mana didapat semua informasi kedokteran di disertasi ini. Dijawab bahwa ada diskusi rutin dengan para dokter. Kemudian beliau bertanya salah satu statemen kedokteran. Dijawab bahwa itu juga pernyataan dokter. Kemudian beliau berkata kalau ini statemen dokter, maka sungguh dia telah salah. Kemudian beliau menjelaskan dari sisi ilmu kedokteran. Subhanallah…

Selain semua kenangan indah ini, ada sisi yang saya ambil pelajaran. Yaitu, kita di negeri ini benar-benar sedang kekurangan pendidik sejati yang selalu didoakan oleh murid-muridnya, dikenang selalu bahkan ketika telah tiada.

Tak ada rangkaian kalimat seindah kalimat teman saya di atas. Padahal sang guru telah pergi menghadap Allah yang Maha Rahim lebih dari 10 tahun yang lalu. Tentu ini keprihatinan luar biasa. Guru yang tak lagi bisa digugu dan ditiru. Guru yang hanya mengejar uang dan jabatan. Guru dengan krisis moral. Guru hanya merupakan kumpulan ilmu terbatas tanpa ada aura roh yang ditebarkan dari hatinya yang paling dalam.

Sementara murid-murid tidak diajari adab. Mereka tidak mempunyai penghargaan terhadap orang yang pernah mengajarinya ilmu. Mereka jauh dari nilai. Mereka menganggap bahwa guru hanya membebani dan mempersulit. Musibah…

Untuk melahirkan SDM peradaban ke depan yang istimewa, dicari para pendidik yang bukan saja dalam ilmunya, tetapi berwawasan luas dan dengan kekuatan roh yang selalu terpancarkan di mana dia berada, memenuhi ruang-ruang pendidikan dan masuk ke relung hati yang paling dalam. <Budi Ashari>

Sumber: parentingnabawiyah.com

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat