Bukan Kau, Bukan Aku, Tetapi Kita

Bukan Kau, Bukan Aku, Tetapi Kita

“Ayo kita tidur Dek…”

“Besok kita pergi kemana Bang?”

“Ini masalah kita Bang….”

Itulah bahasa keluarga yang penuh cinta. Penuh kosakata “kita”. Bukan lagi “kau”, bukan “aku”, walaupun tetap ada “kau” dan tetap ada “aku”, namun akan lebih banyak “kita”. Menikah adalah proses penyatuan kimia, fisika dan biologi dari dua anak manusia yang saling mencinta. Penyatuan pemikiran dan perasaan dari dua insan yang saling tertambat jiwa.

Pernikahan telah menyatukan bukan saja tubuh dua insan tetapi juga menyatukan dua cinta, dua cita-cita, dua hati, dua perasaan, dua visi, dua otak, bahkan dua jiwa yang berbeda. Suami dan istri berkolaborasi dalam kehidupan keluarga, dengan ikatan cinta kasih yang tulus, untuk menempuh kehidupan dalam kebersamaan. Keluarga telah meleburkan suami dan istri dalam sebuah ikatan yang sangat kuat.

Kau dan Aku Menjadi Kita

Dalam pernikahan, konsep “kau” dan “aku” telah menyatu menjadi “kita”, dengan peran dan kodrat masing-masing. Inilah cinta itu; cinta kita, keluarga kita, anak kita, rumah kita, motor kita, handphone kita. Bukan lagi egois dengan ke-aku-an masing-masing. Perhatikan kalimat “kau” dan “aku” pada empat contoh kalimat berikut ini.

“Jangan ganggu aku lagi. Aku gak mau lagi kau sakiti”.

“Mengapa kau selalu membuat masalah?

“Kau selalu mengeluh saja. Apa masalahmu bisa selesai dengan mengeluh?”

Pada kalimat di atas, kesan ego masih sangat tinggi. Suami dan istri belum menjadi satu bagian, belum memiliki satu jiwa, masih berdiri masing-masing. Ada aku di sini, ada kau di sana. Kau dan aku masih menjadi dua ego yang bertahan dan bersikukuh dengan ke-aku-an sendiri-sendiri.

Bagaimana mengubahnya menjadi “kita”?

Perhatikan contoh kalimat pertama. “Jangan ganggu aku lagi. Aku gak mau lagi kau sakiti”. Di sini ada “aku” yang sangat mandiri.

Akan lebih nyaman bila menyatu menjadi kita, seperti ini: “Ayo kita duduk berdua, menyatukan hati dan perasaan kita. Aku merasa sakit hati, tapi aku yakin kita bisa menyelesaikannya”. Dalam kalimat ini, dari aku sudah mulai menjadi kita, pada contoh kasus yang sama dengan kalimat pertama.

Sekarang perhatikan contoh kalimat kedua. “Mengapa kau selalu membuat masalah? Tidak adakah yang bisa kau lakukan selain membuat masalah?” Di sini ada “kau” yang selalu disalahkan.

Taufik
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat