7 Pilar Pengasuhan Anak di Era Digital Ala Elly Risman

7 Pilar Pengasuhan Anak di Era Digital Ala Elly Risman
Elly Risman menyampaikan materi tentang 7 Pilar Pengasuhan Anak saat mengisi seminar parenting yang digelar Al Azhar Syifa Budi, Solo, di Hotel Harris Solo, Sabtu (2/2). Acara itu dihadiri sekitar 500 orang dari berbagai kalangan.

Ayah sebagai coach, dia haru tentukan kualitas anak laki-laki dan perempuan, beda cara mengasuh anak laki-laki dan perempuan, jadilah ayah yang hangat. Jika anak laki-laki seringlah ditepuk-tepuk pundaknya, jika anak perempuan seringlah dielus-elus kepalanya, bimbing, terlibat, jadilah teladan dalam kepemimpinan dan keteguhan hati.

“Menurut hasil penelitian, ayah yang terlibat dalam pengasuhan akan membuat anak terhindar dari kecanduan pornografi. Hak ayah adalah dicintai, dihargai, dihormati, diperdulikan, dipercaya. Maka pulangkan ayah ke rumahnya, jalani peran ayah, takutlah pada neraka,” ungkapnya.

Ketiga, memiliki tujuan pengasuhan yang jelas. Seorang anak harus disadarkan bahwa dia adalah seorang hamba Allah, diarahkan agar menjadi mukmin yang bertakwa, berakhlak mulia dan beribadah secara sempurna. Dia juga harus dididik dan disiapkan menjadi calon istri/suami, calon ayah/ibu, profesional/entrepreneur, pendidik istri, anak dan keluarga, penanggung jawab keluarga dan bermanfaat bagi orang banyak. Sejak dini orang tua seharusnya mendidik anak laki-laki untuk memiliki penghasilan sendiri, karena kelak dia akan menafkahi keluarga.

Keempat, komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan. Kekeliruan dalam komunikasi antara orang tua dan anak antara lain bicara tergesa-gesa, tidak kenal diri sendiri, lupa bahwa setiap individu unik dan kebutuhan dan kemauan berbeda, tidak membaca bahasa tubuh, tidak mendengar perasaan, kurang mendengar aktif, dan seringnya berbicara menggunakan 12 gaya populer. 12 gaya populer itu adalah memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasihati, membohongi, menghibur, mengritik, menyindir dan menganalisa. “Kita sering berbicara tergesa-gesa, sehingga yang terjadi marah-marah kepada anak, akibatnya anak pun kemudian membantah atau berbicara dengan orang tua dengan nada tinggi. Belajarlah berbicara dengan menurunkan frekuensi dari biasanya, insya Allah anak juga akan berbicara lembut dengan orang tuanya. Lebih banyaklah mendengar daripada berbicara,” ujarnya.

“Bagaimana reaksi yang kita terima sekarang? Bukankah itu makna dari komunikasi yang berlangsung selama ini?” jelas Elly Risman.

Kelima, sendiri mendidik agama. Orang tua hendaknya memberikan sendiri pendidikan agama untuk anaknya. Orang tua harus mengubah paradigma atau cara pandang dalam mendidik agama, bukan bisa tapi suka. Misalnya bagaimana membuat anak tak sekadar bisa salat, tapi juga suka salat. Dalam hal pendidikan agama, sosok ayah memegang peranan penting. Dalam studi Alquran, ayat tentang dialog ayah-anak ada 14 kali, sementara dialog ibu-anak hanya dua kali. Hal itu menunjukkan bahwa sosok ayah yang seharusnya menjadi pendidik agama yang utama. Ibu yang menutup atau melengkapi kekurangan ayah. Tanggung jawab orang tua adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Sehingga anak paham, tidak terbebani dan tidak menolak. Anak suka dan bahagia ketika beribadah.

Keenam, persiapkan anak menjadi balig. Hal itu dimulai dari kesadaran dan kesepakatan bahwa anak sebagai amanah Allah Swt. Menyadari bahwa orang tua harus bertanggung jawab kepada Allah Swt atas amanah anak yang diberikan kepadanya, gentingnya masalah karena isu berkembang, anak perlu pendampingan melewati pubertas. Orang tua harus mempunyai komitmen dan kontinyuitas untuk menyediakan waktu dan tenaga dalam mendampingi anak menjelang balig.

Bagaimana cara mempersiapkannya? Masing-masing orang tua harus membuat daftar apa yang luput selama ini dan apa yang diperlukan sekarang, persiapkan materi sesuai umur , tentukan prioritas dan pembagian tugas antara ayah dan ibu.

Elly menegaskan, orang tua harus memberikan pengetahuan kepada anak tentang dampak positif dan negatif televisi, internet, play station, hanphone; penjelasan mengenai persiapan balig, penjelasan tentang pornografi, selfie, pacaran; penjelasan mengenai konsekuensi menjadi orang dewasa, semua harus disampaikan. Pilihan sebagian orang tua memberikan smartphone kepada anaknya yang selalu terhubung dengan internet, menurutnya adalah pilihan yang salah. Pasalnya ketika sudah terhubung dengan internet, anak bisa mengakses apa pun.

Ketujuh, siapkan anak menjadi generasi milenial. Dalam hal ini orang tua harus punya prinsip yang jelas; jangan latah dan jangan mau didikte anak; buat aturan, kesepakatan, kontrol, dampingi, bimbing, buat konsekuensi; jadilah teladan, adakan dialog secara berkala dengan anak dan ayah sebagai pengendali, buat list masalah anak; perbaiki komunikasi, bicara dengan anak mengenai masalah yang dihadapi, sampaikan tentang tujuan pebisnis pornografi dan anak mana yang menjadi target; buat aturan dan kesepakatan baru, pendampingan, evaluasi dan kesepakatan baru lagi. Lalu terapkan.<Eni Widiastuti>

 

 

 

Eni Widiastuti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat