Kandungan Kalimat Syahadat – Bagian 2

Kandungan Kalimat Syahadat – Bagian 2

Hadila.co.id — Sebelumnya kita telah mengulas Kandungan Kalimat Syahadat Bagian Pertama. Pembahasan kali ini adalah lanjutan untuk lebih memperjelas hal-hal apa saja yang terkandung dalam syahadatain. Pernyataan, sumpah, dan janji. Inilah makna kata syahadat yang semestinya kita hayati setiap kali mengucapkan dua kalimat ini. Ketiga makna ini akan melahirkan sebuah komitmen dalam hati yang dinamakan iman. Iman dilustrasikan Allah Swt sebagai sebuah pohon;

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat thoyyibah (laa ilaaha illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [Q.S. Ibrahim (14): 24-25]

Akar, Batang dan Buah

Para ulama ketika mendefinisikan iman, mereka mengatakan, “Iman adalah keyakinan dalam hati, pernyataan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan.”

Sebuah keyakinan selalu bersifat invisible, tak tampak dan tak ada wujud materinya; tak terdengar dan tak terlihat. Bagi sebuah pohon, ia ibarat akar. Tak ada yang melihat dan tak ada yang tahu. Namun, perannya amat penting. Dialah penopang tegaknya batang dan pencari makanan bagi pohon itu dan calon buahnya. Selalu demikianlah takdir akar diciptakan.

Kandungan kalimat syahadat

Sumber: kesehatanmuslim.com

Inilah akar keimanan yang menancap dalam dada Bilal. Seorang budak hitam yang mulia karena tauhid dan akidahnya. Meski serangan begitu menyakiti fisik dan meremukkan badannya. Nikmat dan kepuasan batin yang justru dia rasa. Ini pula yang secara kolektif dinikmati lezatnya oleh keluarga Yasir. Bahkan Summaya, sang istri, berlomba mendahului suami tercinta menjemput ampunan Rabbnya. Menjadi syahidah pertama dalam Islam.

Begitu pula Asiyah, istri Fir’aun. Tak menentu siksa merejam tubuhnya. Namun, justru seuntai senyum dia tunjukkan. Karena istana nan megah telah merindunya di surga. Dia telah menatapnya sebelum tiba ajalnya. Oleh karenanya Allah berkata, “…akarnya teguh.

Sedangkan pernyataan (statement) semestinya lantang, bertenaga, diucapkan dan tak boleh disembunyikan. Karena wataknya adalah deklaratif. Bahkan kadang provokatif. Hingga jelas siapa beriman dan siapa yang kufur. Bagi sebuah pohon, ia bagaikan batang. Tegak menjulang menantang badai dan angkasa. Meski dari kejauhan semua mata bisa melihatnya; “…cabangnya (menjulang) ke langit.

Maka Abu Dzar menolak untuk menyembunyikan keimanannya. Dia lantangkan kalimat syahadat yang agung dihadapan pemuka-pemuka Quraisy yang sedang kongko-kongko di sekitar Kakbah. Dia lupakan dan abaikan risiko karena bara keimanan telah membakar relung hatinya. Dia menjelma menjadi Singa, menantang kerasnya rimba, meski akhirnya babak belur karenanya.

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat