fbpx

Belajar dari Buah Kurma

Belajar dari Buah Kurma

Hadila.co.id — Kita tentu tahu dan pernah merasakan buah kurma yang manis itu. Buah Kurma yang kita makan itu, sebenarnya merupakan fase terakhir dari perjalanan pematangan buah kurma. Berikut ini urutan buah kurma dari sejak kemunculan pertama sampai buah kurma kering berwarna gelap yang kita kenal.

Dari Thala’ Hingga Tamr

  1. Thala’ adalah fase mayang, berbintik-bintik putih atau ada juga yang kekuning-kuningan.
  2. Kholaladalah fase buah pohon kurma mulai muncul berwarna hijau. Berbentuk bulat dan rasanya sepat. Keras dan kriuk ketika digigit.
  3. Balah adalah fase buah kurma berubah warna menjadi merah. Rasanya lebih manis dari sebelumnya walau masih tersisa rasa sepat, masih keras dan kriuk waktu digigit.
  4. Busr adalah fase buah kurma menjadi menguning bercampur coke Yang berwarna kuning masih sedikit sepat, keras, dan kriuk. Namun, yang berwarna cokelat lembek dan manis.
  5. Ruthob adalah fase warna buah kurma telah menjadi cokelat gelap, lembek, dan sangat manis.
  6. Tamr adalah fase terakhir yang lebih kita kenal. Buahnya kering, berwarna cokelat gelap atau hitam, manis, dan awet sekali.

Sesungguhnya ada fase yang lebih detail dari ini. Di antara Thala’ dan Kholal saja masih ada 3 fase; Sayab, Jadal, Sarad. (Lihat Tajul ‘Arus, Murtadho Az Zabidi). Namun, kita cukupkan dengan ke-6 fase tersebut. Hal ini dilandaskan kalimat Ibnul Atsir, “Awalnya kurma adalah Thala’, kemudian Kholal, setelahnya Balah, selanjutnya Busr, kemudian Ruthob dan akhirnya Tamr.” (Lihat Tajurl ‘Arus, Murtadho Az Zabidi, dan Lisanul Arab Ibnul Mandzur).

belajar dari kurma

Adapun Alquran hanya menyebut 2 dari 6 fase kurma. PertamaThala’. “Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.” [Q.S. Qaaf: 10]. KeduaRuthob.Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” [Q.S. Maryam: 25]. Saya belum tahu, mengapa secara khusus hanya 2 fase ini yang disebut dalam Alquran, dan apa hikmah dari pemilihan keduanya.

Satu lagi info tentang urutan buah Kurma tersebut: Semakin matang, semakin sedikit kandungan airnya. Dari kisaran di atas 80% terus berkurang seiring semakin matang, hingga hanya tersisa 20% saja. (Lihat: Ar Ruthob Wan Nakhlah, DR. Abdullah Abdurrazzaq al Said)

Pelajaran dari Buah Kurma

Jika Nabi memerintahkan kita untuk merenungi seorang muslim dan mukmin yang diibaratkan seperti pohon kurma, dan buah kurma hanyalah sebagian manfaat dari pohon kurma; maka dengan informasi di atas bisa kita ambil pelajaran.

Satu, tahapan menuju kesempurnaan. Kita harus bersabar dalam berproses. Tahapan demi tahapan dalam hidup harus dijalani, terukur benar pada setiap tahapan, hingga akhirnya adalah tahapan kesempurnaan.

Dua, kurma adalah buah yang dari awal sudah bisa dinikmati dan bermanfaat. Sejak usia kanak-kanak, bertahap memasuki usia balig dan seterusnya hingga tua, harus sudah ada kebaikan sehingga bisa dimanfaatkan. Tak dibenarkan pada usia kanak-kanak hanya dihabiskan untuk bermain dan tidak ada karya, sehingga tidak bermanfaat fasenya. Tak dibenarkan pada usia balig dianggap usia yang dihabiskan pada keguncangan sehingga usia emas itu justru hilang tanpa manfaat. Dan tidak benar, usia tua adalah usia pensiun dari karya. Ya, orang beriman setiap fase hidupnya harus sudah bermanfaat dan bisa dinikmati oleh orang lain, sesuai dengan fasenya.

belajar dari kurma

Tiga, setiap tahapan memiliki warna-warni yang indah dan dengan ciri khas masing-masing. Perhatikan warna-warni yang ditimbulkan oleh kurma itu. Putih, hijau, merah, kuning, cokelat. Indah, bukan? Begitulah setiap tahapan hidup kita. Harus selalu indah. Dengan rasa dan bentuk keindahan yang berbeda-beda pada setiap tahapannya.

Empat, semakin lama semakin manis dan lembut. Kalau pun setiap tahap hidup sudah bermanfaat, indah, dan bisa dinikmati, ada yang harus dipastikan yaitu semakin lama hidup ini semakin manis dan semakin lembut. Semakin bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta semakin matang dan stabil jiwanya.

Lima, kandungan air semakin berkurang. Karena kandungan air yang besar, Ruthob mudah sekali rusak, sedang Tamr yang sangat awet dan tidak mudah rusak. Hidup ini pun demikian. Semakin hari harus semakin jauh, memiliki imunitas, tidak mudah terbawa arus kerusakan. Semakin matang usia, harus semakin matang ilmu, iman, jiwa, akal untuk kokoh dalam kebaikan dan teguh dalam menolak keburukan di sekelilingnya. Jika usia telah matang tetapi masih saja mudah terbawa arus kerusakan, maka tahapan kurma yang diinginkan nabi belum ada pada kita. [Oleh: Budi Ashari, Lc. | Dimuat dalam Majalah Hadila Edisi Agustus 2014]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat