fbpx

Ayo (Tetap) Berkurban

Ayo (Tetap) Berkurban

Hadila – Sebuah pesan di Whatsapp masuk ke smartphone, dari seseorang yang sudah lama menitipkan tabungan kurban kepada saya. Uang tabungan itu saya masukan ke rekening tabungan kurban yang ada di BMT.

Minimal sebulan sekali, ia rutin menabung untuk persiapan melaksanakan ibadah kurban tahun ini. Kadang menabung Rp50.000, kadang Rp100.000. Hingga tak terasa uang Rp1,5 juta lebih pun terkumpul. Bagi ibu tiga orang anak yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai pencari ikan, angka Rp1,5 juta bukanlah angka yang sedikit. Namun keinginan ia dan suaminya agar tahun ini bisa melaksanakan ibadah kurban, membuat perempuan berjilbab itu rela menekan pengeluaran lainnya, agar bisa rutin menabung.

Namun ketika tiba-tiba wabah virus Covid-19 melanda negeri ini, ia dan suaminya pun menjadi salah satu pihak yang terdampak. Sejak ada warga Solo yang dinyatakan positif terkena Covid-19, suaminya tidak lagi bekerja mencari ikan. Ada kekhawatiran bisa terkena virus Corona, jika pekerjaan itu tetap dilakukan. Sejak itu, suaminya pun mengangggur dan lebih banyak di rumah.

Sejak itu, ia yang berpenghasilan tak seberapa pun menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan posisi suaminya. Namun karena banyaknya kebutuhan untuk keluarganya, penghasilannya pun tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Uang tabungan di rumah pun akhirnya terpakai. Hingga akhirnya, hanya tersisa tabungan kurban yang dititipkan kepada saya. Dengan berat hati, ia pun mengambil sebagian tabungan kurban tersebut. Ia berharap musibah Corona ini segera berakhir, sehingga suaminya bisa kembali bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya. “Semoga nanti Allah memberi rezeki lain sehingga cita-cita kami untuk berkurban bisa terlaksana,” ujarnya.

Kisah nyata di atas adalah satu potret tentang bagaimana pengorbanan seorang muslim untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah Swt.

Warga Semarang, Shanti mengungkapkan ibadah kurban telah menjadi agenda rutin keluarganya setiap tahun. Ia sangat bersyukur keluarganya diberikan nikmat oleh Allah Swt, sehingga bisa rutin berkurban setiap tahun. Shanti biasanya melaksanakan ibadah kurban di kampung halamannya di Kebumen, bersama anggota keluarga lainnya. “Biasanya kita menyembelih sapi, iuran bareng,” ujarnya.

Tahun ini pun, Shanti sudah berencana melaksanakan ibadah kurban. Sebagai ibu rumah tangga yang diberi amanah suaminya untuk mengelola keuangan keluarga, Shanti rutin menyisihkan sebagian penghasilan suami sebagai tabungan kurban. “Karena sudah rutin menabung tiap bulan, saat ibadah kurban tiba, tinggal nambah sedikit. Alhamdulilah,” ujarnya.

Bagi Shanti, Iduladha adalah momen tepat berbagi kebahagiaan dan rezeki dengan saudara-saudara lain yang kurang beruntung. Ia meyakini bahwa dalam sebagian rezeki yang diperoleh keluarganya, ada titipan rezeki mereka yang kurang beruntung. “Kesuksesan kita sedikiti banyak adalah hasil dari doa-doa mereka. Prinsip saya adalah berbuat baik akan berbalik menjadi hal baik. Berbagi tidak akan mengurangi rezeki, tapi insya Allah akan diganti dengan rezeki yang berlipat-lipat oleh Allah Ta’ala,” jelasnya.

Eni Widiastuti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat