Hadila – Asalamualaikum, Ustazah. Saya punya kakak laki-laki yang jarang menjenguk orang tua kami. Sejak menikah, kakak saya jadi perhitungan dan pelit. Saat orang tua sakit, dia minta ganti semua biaya rumah sakit, dan masih banyak hal lainnya. Padahal, menurut saya itu sudah kewajiban anak kepada orang tua, terlebih kakak saya termasuk orang berada. Meski saya sebal dengan sikap kakak saya, selama ini saya diam karena permintaan orang tua. Setelah bertahun-tahun, saya tidak tahan dengan sikap kakak saya. Saya harus bagaimana? [Rini, Boyolali]
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Seorang anak seharusnya tidak hitung-hitungan bila membantu orang tua. Namun apa daya, posisi sebagai adik dan kondisi yang belum memungkinkan untuk mengubah sikap kakak. Akhirnya, kita pendam sendiri rasa kesal itu. Apa akibatnya? Hidup kita terasa sempit, dada sesak. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka bisa merusak hubungan dengan kakak, orang tua, juga keluarga. Tidak ada untungnya.
Apa yang seharusnya kita lakukan? Pertama, sadari posisi orang tua bagi anak. Rasulullah Saw bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” [H.R. Ahmad]
Pintu tengah adalah pintu yang paling gampang dimasuki. Kita bisa mudah masuk surga jika mengambil kesempatan itu dengan berbakti pada orang tua. Apakah kita akan menyia-nyiakannya?
Kemudian, apakah kita akan kehilangan harta jika mengeluarkan dana untuk orang tua? Tidak. Bahkan, Allah akan memberi basalan ratusan kali lipat. “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” [Q.S. Al-Baqarah: 261]
Apalagi, sedekah kepada orang tua adalah sedekah paling utama. “Sedekah kepada orang miskin mendapatkan satu pahala, tetapi sedekah kepada kerabat mendapatkan dua pahala: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi.” [H.R. Tirmidzi]
Sampai di sini tentu kita akan semangat untuk sedekah kepada orang tua. Jangankan harta, diri kita juga milik orang tua kita. “Engkau dan hartamu milik orang tuamu. Sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baik hasil usahamu. Makanlah dari hasil usaha anak-anakmu.” [H.R. Abu Daud]
Jadi, boleh sekali orang tua menggunakan harta anaknya, karena harta anak juga harta orang tua.
Jika kita membuat orang tua tersenyum, maka Allah pun akan tersenyum pada kita.
Bagaimana sikap diam Anda atas sikap kakak karena menuruti orang tua? Jika kita membuat orang tua tersenyum, maka Allah pun akan tersenyum pada kita.
Pada satu saat, Ibnu Umar menghadap Rasulullah. Beliau bertanya, “Ya Rasulullah, aku tidak bisa melihat Allah itu seperti apa, tetapi bagaimana caranya aku ingin merasakan kalau Allah sedang tersenyum kepadaku. Aku tidak bisa melihat wajah Allah, tetapi aku ingin tahu seperti apa Allah tersenyum kepadaku.” Maka Rasulullah menjawab, “Wahai Ibnu Umar, kalau kamu ingin membuat wajah Allah tersenyum kepadamu, maka buatlah senyum di wajah ibumu.”
Betapa beruntungnya anak yang bisa merawat orang tua. Yang bisa membuat orang tua tersenyum dengan pelayanan, sikap, sopan santun, bantuan, cerita, dan pelukannya.
Kedua, bagaimana sikap kita pada kakak? Pahami bahwa kakak belum mengerti tentang kemuliaan berbakti kepada orang tua. Sebenarnya, beliau patut dikasihani. Sayang jika secara ekonomi berada, tetapi tidak memanfaatkan kesempatan emas itu.
Maka, ikhlaskan sikap kakak yang demikian. Diam saja, sesuai keinginan orang tua. Namun, diam di sini adalah diam karena paham, bukan sambil menahan marah.
Nah, agar memudahkan Anda melakukan ini, berdoalah kepada Allah. Sampaikan, “Ya Allah, aku ikhlaskan semua yang terjadi padaku, orang tuaku, dan kakakku. Bersihkan hatiku dari rasa kesal dan marah pada kakak, karena sesungguhnya dia belum paham.”
Kemudian, doakan semoga kakak mendapat hidayah. Ikhtiarlah, barangkali ada orang yang bisa memberi masukan dan nasihat pada kakak. Beliau orang yang disegani dan dihormati kakak, sehingga mau mendengar nasihat beliau. Hanya kepada Allahlah kita menyandarkan harapan dan berserah diri. <>
Naskah pernah dimuat di rubrik Konsultasi Keluarga, Majalah Hadila Edisi 221, September 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)
Diasuh oleh: Ustazah Farida Nur ‘Aini, S.Sos. (Konselor Parenting dan Keluarga)




















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *