Di balik senyum ramahnya, drg. Siti Nur Syafa’atur Rofiah menjalani kehidupan yang penuh keseimbangan. Sehari-hari ia berperan sebagai ibu dari empat anak, istri, sekaligus dokter gigi yang aktif praktik di Klinik Utami Nugroho dan Puskesmas Sambirejo, Sragen. Rutinitas paginya tak jauh berbeda dengan ibu rumah tangga lainnya, yakni menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak beraktivitas, lalu berganti peran sebagai tenaga medis yang melayani masyarakat.

Lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini meniti karier dengan penuh dedikasi. Setelah menikah, ia sempat bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Tangen selama empat tahun, kemudian pindah ke Tanon, hingga akhirnya menetap di Sragen bersama sang suami yang juga alumni UGM. Baginya, profesi dokter gigi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk ibadah yang memberi manfaat bagi banyak orang. “Asiknya jadi dokter gigi itu kita bertemu dengan banyak karakter manusia, dan mudah-mudahan apa yang kita lakukan bisa menjadi bekal ibadah,” ujarnya.
Pandangan hidup drg. Rofi sederhana. Ia sadar bahwa setiap profesi harus dijalani dalam rangka ibadah dan memberi manfaat. Ia juga percaya bahwa harta, waktu, dan tenaga yang dimiliki adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, ia menekankan pentingnya membersihkan harta melalui zakat, infak, dan sedekah. “Bagi saya itu investasi jangka panjang. Kita tidak tahu berapa banyak dosa yang kita lakukan, mungkin dengan zakat dan sedekah membuat doa kita lebih mudah dijawab Allah,” tuturnya.
Keterlibatannya dengan Solopeduli sudah berlangsung lebih dari 17 tahun. Ia rutin menyalurkan ZISWAF, mulai dari zakat mal, program Orang Tua Asuh, hingga donasi untuk Palestina. Kepercayaannya tumbuh karena merasa Solopeduli amanah, transparan, dan program-programnya relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bahkan, ia pernah merasakan langsung manfaatnya ketika pasien yang ia rujuk membutuhkan ambulans gratis, dan Solopeduli hadir memberi solusi.
Bagi drg. Rofi, berbagi bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan untuk memperbaiki diri dan menebar manfaat. “Hidup ini tidak selamanya, kita harus menyiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya. Salah satunya lewat harta yang kita salurkan,” katanya. Fakta bahwa ia konsisten menyalurkan ZISWAF melalui Solopeduli menjadi bukti nyata komitmennya dalam mengintegrasikan profesi, keluarga, dan pengabdian sosial. <>















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *