Ketika Allah Swt Memanggilnya: Mengutamakan Salat Berjemaah di Masjid

Ketika Allah Swt Memanggilnya: Mengutamakan Salat Berjemaah di Masjid

Kalau dilihat dari kacamata perniagaan, tentu salat yang ditunaikan secara berjemaah lebih menguntungkan.

 

Hadila – Matahari kembali ke peraduannya. Menyisakan semburat merah saga di ufuk barat. Awal malam bermula. Terdengar kumandang azan dilantunkan muazin. Di sebuah rumah, Amir bin Abdullah sedang berjuang melawan sakit.

Tuntunlah saya ke masjid,” pintanya.
Engkau sedang sakit,” jawab orang-orang di sekelilingnya.
Saya mendengar panggilan Allah. Bagaimana saya tidak memenuhinya?” ujar Amir dengan ungkapan retoris.

Orang-orang di sekelilingnya pun menuntunnya ke masjid. Di rumah Allah Swt tersebut Amir menunaikan salat Magrib bersama imam. Setelah satu rakaat, dia meninggal dunia. Ya, rupanya ini menjadi magrib terakhir baginya.

 

***

Ikhtisar cerita ini dikisahkan Ibnul Jauzi dalam kitab Shifat Ash Shafwah (1/374) dan Adz Dzahabi dalam kitab Siyar A’lām An Nubalā’ (5/220). Karakter utamanya adalah Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam (w. 120-an H.), salah seorang ulama dan ahli ibadah di kalangan tabi’in.

Orang sakit, tidak berdaya, minta dipapah menuju masjid pada saat hari sudah mulai malam. Alasannya terkesan sederhana, ingin menunaikan salat berjemaah karena mendengar seruan azan. Demikian setting peristiwa kisah ini. Padahal, orang yang sedang sakit yang karena sakitnya dia mengalami kesulitan untuk mendatangi masjid, menurut konsensus para ulama, diperbolehkan salat di rumah.

Apakah ulama generasi Tabi’in mengabaikan konsepsi fikih keringanan? Tentu saja tidak. Karena sifat keringanan adalah ‘diperbolehkan’, bukan ‘diwajibkan’. Dia lebih memilih mana yang lebih utama. Terkait hal ini, Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah, “Siapa saja yang mendengar panggilan azan lalu dia tidak mendatanginya (menuju masjid), maka dianggap tidak melakukan salat, kecuali (ketidakdatangannya) disebabkan karena ada uzur.

Peristiwa seperti ini, untuk ukuran masa sekarang, memang langka. Namun, tidak untuk masa para salaf di tiga kurun utama. Setidaknya berdasarkan informasi dari Ibnu Mas’ud sebagaimana diriwayatkan Muslim, kita menemukan fakta bahwa orang-orang yang sakit pada masa generasi Sahabat datang dengan dipapah menuju masjid.

Dia menuturkan, “Sungguh saya telah melihat (di zaman) kami, tidaklah ada yang meninggalkan salat lima waktu (secara berjemaah di masjid) kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya. Dan sungguh (sampai-sampai) seorang laki-laki (muslim yang sedang sakit) dibawa (ke masjid) dengan diapit dua orang laki-laki sampai ditegakkan di (tengah) barisan (salat berjemaah).

Secara khusus, kisah Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam ini memotret semangatnya yang luar biasa dalam menggapai keutamaan salat berjemaah, karena pahalanya lebih besar dibandingkan salat sendirian. Nilainya sebanding dengan 27 kali salat (yang sama) jika ditunaikan sendirian. Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Salat berjemaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada salat sendirian.

Oleh sebab itu, siapa pun yang menunaikan salat dengan harapan memperoleh pahala lebih banyak, mestinya menunaikannya secara berjemaah di masjid. Dengan demikian, dia akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar dibanding salat sendirian. Gerakan dan doa-doanya sama. Waktu dan durasinya sama. Namun, besaran pahalanya berbeda. Kalau dilihat dari kacamata perniagaan, tentu salat yang ditunaikan secara berjemaah lebih menguntungkan.

Kisah ini juga mengisyaratkan adanya relasi kuat antara kalbu cucu Zubair bin Awwam ini dengan rumah Allah Swt. Ya, kalbunya terpaut dengan masjid. Inilah yang menjadikannya gemar pergi ke masjid. Berbahagialah orang yang suka bolak-balik ke masjid. Allah Swt menyediakan tempat untuknya di surga.

Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Barang siapa pergi ke masjid di pagi atau sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat di surga setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi atau sore hari.

Perpaduan antara semangat menggapai keutamaan dan keterpautan dengan rumah Allah Swt inilah yang melahirkan kerinduan membuncah, rindu salat berjemaah di masjid. Kerinduan ini nyata tak bisa dibendung, bahkan saat sedang sakit di detik-detik terakhir hayatnya. Semoga Allah Swt menganugerahkan rahmat kepadanya. Wallaahu a’lam. <>

 

Naskah pernah dimuat di rubrik Taman Qalbu, Majalah Hadila Edisi 221, November 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)
Diasuh oleh: Ustaz Tamim Aziz, B.Sh., M.P.I. (Wakil Ketua Yayasan Ulin Nuha, Slawi – Tegal)

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos