Hadila – Asalamualaikum, Ustazah. Anak saya usia 6 tahun. Sejauh mana batas orang tua memaksa anak untuk melakukan sesuatu? Saya pernah dengar pendapat bahwa anak kecil perlu dipaksa melakukan hal baik agar jadi kebiasaan baik. Namun ada yang bilang, jangan terlalu memaksa anak melakukan sesuatu, karena anak akan frustrasi. Mohon pencerahannya. [Nana, Solo]
Wa’alaikumsalam. Dalam hal ini, kita perlu memaknai bahwa tegas berbeda dengan keras. Keras pakai ‘agresivitas’. Misal, tanpa ada alasan tertentu, kita marah, main tangan.
Sementara itu, tegas memiliki aturan, penyebab, atau pemicu. Kita mungkin bicara lebih nyaring, dengan nada lebih tinggi, dan ada tahapan. Ibaratnya menegur orang di tempat kerja, ada Surat Peringatan (SP) 1 sampai 3. Sebagai contoh, kita sedang jengkel. Pertama, nadanya mungkin do. Kedua, diperingatkan dengan nada re, dan seterusnya.
Kemudian, berbeda juga antara tegas dan memaksa. Memaksa lebih bermakna seperti keras. Jadi, boleh tidak memaksa anak melakukan kebaikan? Pada dasarnya, jika yang kita pahami arti memaksa adalah keras, itu tidak boleh.
Namun, ketika kita mengondisikan atau memola supaya anak melakukan sesuatu tanpa terpaksa, itu boleh. Justru, malah perlu kita latih agar bisa seperti itu.
Misal, anak usia 6 tahun, mau kita biasakan bangun pagi. Nah, itu tidak semudah yang kita bayangkan, perlu proses pembiasaan berulang-ulang (repeat), bahkan mungkin perlu juga pengondisian di alam bawah sadar.
Jadi ‘kita arahkan anak melakukan sesuatu, tapi biar itu terjadi alamiah’. Alamiah di sini bisa dikondisikan. Kalau mau membiasakan anak bangun pagi, otomatis di alam sadar, kita sampaikan bahwa manfaat bagun pagi begini-begini—baik untuk kesehatan, baik untuk pembiasaan diri, hati jadi lebih tenang, dan sebagainya. Jika perlu, kita bisa menambahkan pengalaman kita.
Misal, “Ibu pernah, lho, bangunnya kesiangan. Rasanya nggak enak di hati, nggak nyaman. Mau beraktivitas jadi panik.”
Jadi, kalau mau bangun pagi, malamnya tidak boleh tidur kemalaman, sehingga mudah bangun pagi. Sama halnya ketika kita memola hal positif pada diri anak, perlu dikondisikan dari hal-hal kecil.
Cara berikutnya, bisa dilakukan di alam bawah sadar. Ini pakai teori hipnoterapi, tapi dalam hal ini untuk hypnoparenting boleh dilakukan. Masukkan konsep positif di alam bawah sadar anak. Pastikan kalau melakukan hal ini, di alam sadarnya dipenuhi dulu. Jangan sampai di alam sadarnya dia masih reject (menolak). Jika demikian, jangan harap di alam bawah sadar bisa connect.
Untuk alam bawah sadar, yang diperlukan adalah melakukan tindakan rutin berkelanjutan. Dengan pembiasaan berkali-kali, akan lebih cepat ada hasilnya. Jadi, untuk masalah bangun pagi misalnya, upayakan kita tahu jam tidur anak, kita ikuti ritme pola tidur anak, jangan tidur duluan, supaya bisa melakukan hypnosleeping.
Saat kondisi alam bawah sadarnya masuk (hampir lelap, dalam bahasa Jawa liyer-liyer), kita pesankan hal-hal/kata-kata positif. Misalnya, “Nak, besok bangunnya pagi-pagi, ya. Nyaman, lho, bangun pagi itu, enak, lho, bangun pagi itu.”
Bukan dengan kata-kata negatif, “Nak, jangan kesiangan bangunnya!” Nanti akan ditangkap pesan otak anak jadi bangunnya siang.
Lakukan hal tersebut berulang. Nanti saat kondisi anak menjelang lelap, insyaallah konsep kita masuk. Biasanya, kalau hal-hal ringan tidak lama, sekitar satu atau dua pekan sudah ada hasil, akan terkondisi.
Akan beda hasilnya kalau kita melakukannya dengan kekerasan, penuh ancaman. Misal, “Kalau kamu nggak belajar, nanti nggak boleh jajan.” Hal ini memang bisa menimbulkan kepatuhan, tetapi kepatuhannya itu karena takut. Biasanya berefek negatif, sehingga ada keguncangan dalam jiwanya. Sekali dua kali oke, tapi lama kelamaan jadi cemas atau stres.
Akhirnya, bisa jadi akan berdampak pada perilaku yang lain. Misalnya, “Biar aku nggak dimarahi, nilaiku harus baik.” Akhirnya, dia ‘menyontek’. Ketika yang dihadirkan itu hal negatif, siklus perilaku yang muncul juga negatif. <>
Naskah pernah dimuat di rubrik Konsultasi Tumbuh Kembang, Majalah Hadila Edisi 221, September 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)
Diasuh oleh: Budhy Lestari, S.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis, Anak dan Remaja, serta ABK)




















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *