Anak Mudah Bosan, Bagaimana Solusinya?

Anak Mudah Bosan, Bagaimana Solusinya?

Hadila – Assalamualaikum Ustazah. Bagaimana men-treatment anak yang mudah bosan? Sementara jika dikasih aktivitas baru dia gampang menyerah. (Dina, Solo)

Jawaban oleh Sinta Yudisia, Psikolog.

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakumullah khairan katsir, Bunda Dina. Semoga Ananda menjadi anak shalih/shalihah dan kita pun menjadi orang tua yang saleh shalihah.

Tentang Ananda yang mudah menyerah. Umur berapakah dia? Sebab masing-masing kelompok usia memiliki kecenderungan yang berbeda. Selain masalah kelompok usia, kesukaan pada sesuatu juga didukung oleh karakter kepribadian. Ada anak yang suka beraktivitas di luar rumah (outdoor) , ada yang di dalam rumah (indoor). Ada yang suka bermain sendiri, ada yang lebih bersemangat ketika berkelompok bersama teman-temannya.

Anak yang cerdas memang cenderung mudah bosan karena ia mahir menguasai sesuatu. Awalnya ia suka sekali bermain lego. Karena mahir meniru bentuk bangunan, kendaraan sampai beragam bentuk benda; ketika sudah tak ada lagi imajinasi, ia akan merasa jenuh. Namun, kadangkala anak cerdas juga cenderung perfeksionis dan mudah patah ketika menemui hambatan. Sehingga ketika berganti aktivitas, seperti yang bunda Dina katakan, gampang pula menyerah. Di satu sisi cepat menguasai sesuatu membuatnya bosan, di sisi lain tak mudah mendorongnya agar menyukai tantangan baru.

Bagaimana solusinya?

Pertama, tentu kesabaran orang tua adalah kunci keberhasilan mendampingi Ananda. Mendidik anak bukan hanya butuh ilmu pengetahuan, finansial, lingkungan, sumber daya manusia; yang sangat diperlukan adalah memupuk kesabaran orang tua di sepanjang waktu. Apalagi Ananda yang tumbuh di era milenial menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya. Mereka pencemas, overthinking, tak cepat beradaptasi, termasuk di dalamnya mudah patah menyerah. Padahal Ananda adalah anak yang pintar. Ini sering kali membuat orang tua gemas. “Gemas” nya orang tua tentu harus direduksi dengan sikap dan perilaku sabar.

Kedua, amati segala perilaku Ananda setiap hari. Buat catatan-catatan penting. Boleh jadi, ada catatan berharga yang dapat dijadikan acuan. Misal, dulu suka membuat origami lalu bosan dan berganti menyusun lego. Dulu suka menggambar-gambar lalu bosan dan berganti kesukaan bongkar pasang mainan. Apa yang disukai Ananda beberapa waktu lalu, dapat menjadi alternatif pengganti permainan yang membosankan. Karena dulu sudah pernah mahir, tidak butuh effort besar untuk menguasainya. Semoga ini menjadikan Ananda menjadi lebih bersemangat dan tak mudah patah.

Ketiga, cari analogi atau persamaan dari permainan sebelumnya. Misal, Ananda suka  permainan lego brick. Ketika bosan, bisa digantikan dengan lego yang lebih kompleks seperti lego robot, lego mobil-mobilan, lego robot atau lego architecture. Memang, ini bukan permainan yang murah. Bunda bisa berkreasi lebih bila ketersediaan dana terbatas. Mengumpulkan kardus aneka ukuran yang dibungkus kertas kado atau kertas warna warni, dapat memicu kreativitas Ananda. Kertas bungkus pasta gigi, sabun, obat, kosmetik, dan lain-lain. Susun balok-balok ini menjadi bentuk yang diinginkan.

Keempat, ajak diskusi Ananda dan gali imajinasinya. Boleh jadi Ananda ingin suatu aktivitas yang sangat berbeda dari yang selama ini biasa dilakukan. Semisal dulu suka bersepeda dan bermain sepatu roda bersama teman-teman. Ia ingin sekali bisa menggambar anime atau melukis pemandangan. Mengapa tidak dicoba? Belikan Ananda sketchbook dan art supply yang banyak disediakan di pasaran. Kalau Ananda mudah menyerah dengan aktivitas ini, Bunda dapat mendampinginya dengan aktivitas yang sama. Ketika Ananda mencorat coret sketchbooknya, lakukan hal yang sama. Bunda dapat memiliki sketchbook sendiri dan mencorat coret gambar di sana. Ada dua keuntungan yang didapat sekaligus: membangun imajinasi dan kreativitas Ananda; sekaligus self-healing bagi Bunda. Sering kali, Ananda menyerah dan cepat meninggalkan pekerjaannya disebabkan ia harus menjalani aktivitas tersebut sendirian. Bila ada teman yang mendampingi, kemungkinan akan lebih bersemangat.

Kelima, jangan lupa untuk terus berdoa dan belajar. Setiap anak unik. Tak ada anak yang 100% sama walau ia kembar sekalipun. Ketika satu permasalahan terkait Ananda hadir, orang tua sesungguhnya tengah duduk di bangku pembelajaran. Menganalisa masalah dan mencoba mencari penyelesaikannya secara logika dan intuisi. Selamat mencoba, Bunda Dina. Salam sayang untuk Ananda tercinta. <Pernah dimuat di edisi cetak majalah Hadila>

Eni Widiastuti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos