Hadila – Asalamualaikum. Apakah orang dewasa perlu minum obat cacing berkala? Saya pernah baca, kalau anak-anak dianjurkan minum obat cacing setiap 6 bulan sekali. Nah, apa hal itu juga berlaku pada orang dewasa? Bagaimana tanda-tanda orang yang terkena infeksi cacing? Bolehkah minum obat cacing meski tidak cacingan? [Hamba Allah]
Wa’alaikumsalam. Kasus Raya, anak di Sukabumi yang dilaporkan mengalami kondisi medis berat akibat infeksi cacing, sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Pemberitaan tersebut bahkan memicu fenomena panic buying obat cacing, seolah infeksi cacing selalu berakibat fatal.
Dari sisi medis, infeksi cacing bersifat kompleks: ada yang tanpa gejala, ada pula yang menimbulkan komplikasi bila infeksi cacing tinggi atau disertai faktor lain, seperti malnutrisi dan infeksi sekunder.
Infeksi cacing (soil-transmitted helminthiasis) disebabkan cacing usus, seperti cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang. Penularan terjadi melalui tanah, makanan, atau air yang terkontaminasi telur/larva. Di Indonesia, penyakit ini masih jadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan sanitasi rendah.
Pertanyaannya, apa orang dewasa juga perlu minum obat cacing rutin seperti anak-anak?
Pengendalian Infeksi Cacing pada Anak
WHO dan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pemberian obat cacing massal pada anak usia sekolah setiap 6–12 bulan, terutama di daerah endemis. Anak lebih rentan terinfeksi, karena kebiasaan bermain di tanah dan kebersihan diri yang belum optimal. Infeksi sejak dini dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang, anemia, hingga penurunan fungsi kognitif.
Strategi ini dikenal sebagai preventive chemotherapy, yaitu pemberian obat cacing berkala tanpa pemeriksaan individual, untuk menurunkan tingkat infeksi di masyarakat.
Bagaimana dengan Orang Dewasa?
Terdapat tiga faktor utama yang perlu dipertimbangkan:
1. Sanitasi Lingkungan
Orang dewasa yang tinggal di daerah dengan sanitasi baik, terbiasa menjaga kebersihan diri, dan memiliki risiko paparan rendah, tidak perlu obat cacing rutin.
2. Daerah Endemis
WHO merekomendasikan kelompok orang dewasa tertentu di daerah endemis untuk mendapatkan pencegahan obat cacing. Kelompok ini terutama individu yang berisiko tinggi terpapar tanah atau lingkungan terkontaminasi, seperti petani, pekerja perkebunan, dan penambang.
3. Kondisi Khusus
Pada wanita hamil, obat cacing diperbolehkan pada trimester II–III, karena dapat menurunkan risiko anemia akibat infeksi cacing. Namun, pemberian pada trimester I umumnya ditunda, karena keamanan janin masih jadi pertimbangan.
Gejala Infeksi Cacing pada Orang Dewasa
Pada tingkat infeksi rendah, dapat timbul gejala ringan. Namun, apabila tingkat infeksi cacing cukup tinggi, dapat muncul gejala berikut:
• Nyeri perut, mual, muntah, atau diare berulang.
• Nafsu makan menurun, berat badan sulit naik.
• Anemia, ditandai kondisi badan lemah, cepat lelah, dan pucat.
• Gatal pada anus saat malam hari (cacing keremi).
• Pada kasus berat: obstruksi usus, prolaps rektum, atau perdarahan kronis.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing.
Apakah Aman Minum Obat Cacing Tanpa Gejala?
Di daerah endemis, obat cacing diberikan tanpa pemeriksaan individual, karena manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Albendazole dan mebendazole terbukti aman dengan efek samping ringan yang bersifat sementara. Sebaliknya, pada individu sehat di daerah non-endemis, obat cacing tanpa indikasi tidak dianjurkan karena tidak bermanfaat dan dapat berpotensi menimbulkan efek samping atau risiko resistensi jangka panjang.
Kasus Raya mengingatkan bahwa infeksi cacing masih menjadi masalah nyata di Indonesia, tetapi jangan sampai menimbulkan kepanikan atau penggunaan obat yang tidak tepat. Pada anak-anak, pencegahan dilakukan dengan pemberian obat cacing secara rutin. Pada orang dewasa, kebutuhan obat cacing bergantung pada risiko paparan, kondisi kesehatan, dan rekomendasi program setempat. <>
Naskah pernah dimuat di rubrik Konsultasi Kesehatan, Majalah Hadila Edisi 221, September 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)
Diasuh oleh: dr. Hanifa Nur Fadhila, Dokter Umum Klinik SOLOPEDULI, Jebres, Solo




















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *