Khotbah Jumat: Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Khotbah Jumat: Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Khutbah Jumat H. Heri Sucitro, S.Pd. | Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta | 4 September 2026

Pada Jumat Wage, 4 September 2026 M, bertepatan dengan 22 Rabi’ul Awwal 1448 H, Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta, menyelenggarakan ibadah salat Jumat yang dimulai pukul 11.38 WIB. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam adalah H. Heri Sucitro, S.Pd., Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta.

Dalam khutbahnya yang bertema “Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ”, H. Heri mengajak jamaah untuk memahami bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan, pujian, atau ucapan di lisan. Cinta harus diwujudkan dalam kehidupan melalui keteladanan akhlak, pengamalan sunnah, memperbanyak shalawat, serta menjaga nama baik Islam melalui perilaku sehari-hari.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah Bagian dari Iman

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari keimanan seorang muslim. Allah SWT mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, maupun kehidupan dunia tidak sampai melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu merupakan salah satu sebab seseorang dapat merasakan manisnya iman.

Karena itu, cinta kepada Rasulullah ﷺ semestinya tidak berhenti sebagai tema yang dibicarakan, tetapi menjadi nilai yang mengarahkan pilihan, sikap, dan perilaku seorang muslim.

Keteladanan Para Sahabat

Para sahabat Rasulullah ﷺ memberikan contoh nyata tentang bagaimana cinta diwujudkan dalam pengorbanan dan kerinduan.

Bilal bin Rabah memiliki kerinduan yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ hingga kematian dipandang sebagai jalan untuk kembali bertemu dengan beliau.

Sementara Tsauban begitu merindukan Rasulullah ﷺ hingga khawatir tidak dapat berkumpul bersama beliau di akhirat. Allah kemudian menenangkan hati orang-orang yang taat bahwa mereka akan dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Contoh lainnya ditunjukkan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang rela menahan rasa sakit demi melindungi Rasulullah ﷺ ketika berada di Gua Tsur.

Kisah para sahabat tersebut menunjukkan bahwa cinta yang sejati akan melahirkan kesetiaan, keberanian, dan kesediaan untuk berkorban.

Empat Bukti Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Pertama, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai cermin kehidupan.

Mencintai Rasulullah ﷺ berarti berusaha meneladani akhlak beliau: lembut dalam berbicara, mudah memaafkan, penuh kasih sayang, namun tegas dalam membela kebenaran.

Dalam setiap pilihan dan keputusan, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya: “Apakah cara yang saya tempuh ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?”

Kedua, menghidupkan sunnah.

Sunnah tidak semestinya hanya menjadi pengetahuan, tetapi harus menjadi jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama.

Di tengah lingkungan yang semakin jauh dari nilai agama, menghidupkan sunnah membutuhkan kesungguhan. Namun, di situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diuji. Sunnah yang benar-benar hidup akan melahirkan akhlak yang baik dan menghadirkan kedamaian bagi orang-orang di sekitar.

Ketiga, memperbanyak shalawat.

Shalawat merupakan ungkapan cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Membiasakan lisan bershalawat menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kecintaan kepada beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, shalawat hendaknya tidak hanya menjadi kebiasaan lisan, melainkan juga menjadi pengingat untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.

Keempat, menjaga nama baik agama.

Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa perilakunya dapat menjadi cerminan bagaimana orang lain memandang Islam. Jangan sampai perkataan kasar, akhlak buruk, ketidakjujuran, atau sikap negatif justru membuat orang lain memiliki pandangan buruk terhadap agama.

Sebaliknya, umat Islam harus menghadirkan keindahan ajaran Rasulullah ﷺ melalui sikap santun, amanah, jujur, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi sesama.

Cinta yang Harus Terlihat

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang seberapa sering kita mengungkapkan rasa rindu, memuji, atau bershalawat. Cinta harus memiliki bukti yang terlihat dalam kehidupan.

Mengikuti sunnah, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, memperbanyak shalawat, serta menjaga nama baik Islam melalui perilaku merupakan bagian dari upaya membuktikan cinta tersebut.

Ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan semata-mata seberapa sering kita mengatakan mencintai beliau, tetapi seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan ajaran dan akhlak beliau.

Sebab, cinta yang sejati tidak berhenti di hati dan lisan. Ia harus terlihat dalam akhlak, sunnah, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari. <>

Ibnu
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos