Suami, Antara Cinta kepada Allah dan Cinta kepada Istri

Suami, Antara Cinta kepada Allah dan Cinta kepada Istri

عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: «كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ – تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ – فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ» , (خ) 676

“Dari al-Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa yang biasa dilakukan Nabi Saw di rumahnya?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya–maksudnya melayani kebutuhan keluarganya–dan apabila waktu salat telah tiba, beliau keluar untuk menunaikan salat.”

[HR al-Bukhari, no. 676]

Kilas Penjelasan

Hadis ini menggambarkan keseharian Rasulullah Saw yang penuh kasih sayang, tawadhu’, dan keseimbangan: beliau membantu keluarganya dalam urusan rumah, tetapi tetap menomorsatukan ibadah kepada Allah dengan segera menghadiri salat berjemaah. Ini menjadi teladan besar bagi umat Islam, khususnya suami dan ayah, bahwa membantu keluarga adalah bagian dari akhlak mulia dan sunah Nabi Saw.

Tinggalkan Kenangan yang Baik untuk Keluargamu

Hadis ini adalah jawaban dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah Ra tentang kehidupan pribadi Rasulullah Saw di rumah. Ini menunjukkan sisi keseharian beliau, bukan hanya sebagai Nabi, pemimpin, atau panglima perang, tetapi juga sebagai suami yang penuh kasih sayang.

Rasulullah Saw memilih kebaikan dan pelayanan kepada keluarganya sebagai suatu kenangan yang akan selalu diingat keluarganya. Sementara, ada sebagian suami yang memilih kekikiran dirinya sebagai sesuatu yang akan dikenang keluarganya.

Diriwayatkan bahwa Hindun, Ibunya Mu’awiyah, berkata kepada Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Abu Sufyan, seorang suami yang pelit. Apakah berdosa jika saya mengambil sebagian dari hartanya tanpa sepengetahuannya?” Beliau menjawab, “Ambillah, sebagian dari hartanya yang sekiranya mencukupimu dan anak-anakmu secara ma’ruf.” [HR Bukhari]

Ketika dilamar Abu Jahm untuk menjadi istri yang kesekian, Fathimah binti Qais berkonsultasi kepada Rasulullah Saw. Lalu beliau menjawab, “Adapun Abu Jahm, maka ia adalah seorang suami yang tidak mengangkat tongkatnya dari para istrinya. Menikahlah dengan Usamah.” [HR Tirmidzi, disahihkan Al Albani]

Sebagian ulama menjelaskan, “Tidak mengangkat tongkatnya” dengan arti, “sering bepergian dan jarang di rumah.” Sebagian lain menjelaskan, “Sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga.”

Meratukan Pasangan, Bukanlah Suatu Kehinaan

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya” maksudnya: Nabi Saw membantu urusan rumah tangga, seperti menjahit pakaiannya, memerah susu kambing, memperbaiki sendalnya, menambal pakaian, dan pekerjaan domestik lain.

Imam Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan: maksudnya adalah beliau melakukan sendiri sebagian pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan pembantu, untuk meringankan beban keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw sangat rendah hati, tidak merasa malu atau gengsi melakukan pekerjaan rumah, meskipun beliau adalah Nabi terakhir dan pemimpin umat.

Beliau tidak meletakkan semua beban pada istri, tetapi ikut berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga. Ini menjadi teladan bagi kaum laki-laki, bahwa membantu keluarga dalam pekerjaan rumah bukan aib, bahkan merupakan sunah Rasul yang akan memuliakan para suami yang mengamalkannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang terbaik kepada keluarganya.” [HR Tirmidzi]

Menjaga Keseimbangan Prioritas

Walaupun sibuk membantu di rumah, ketika masuk waktu salat, beliau segera meninggalkan semua urusan dunia dan keluar untuk salat berjemaah di masjid. Ini menunjukkan pentingnya menyeimbangkan antara hak keluarga dan hak Allah. Menunjukkan bahwa antara cinta keluarga dan cinta Allah bisa berjalan selaras, tanpa harus dibentur-benturkan antara yang satu dengan yang lain.

Hal ini juga mengisyaratkan bahwa secara umum, cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga. Bahkan, cinta kepada Allah hendaknya menjadi pijakan cinta kita kepada keluarga. Ketika ditanya mengenai simpul Islam yang paling kuat, Rasulullah Saw menjawab, “Cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [H.R. Baihaqi] Wallahu a’lam bishawaab. <>

 

Naskah pernah dimuat di rubrik Syarah Hadis, Majalah Hadila Edisi 221, September 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos