Atasi Nyeri Leher: Tim Pengabmas Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta Edukasi Warga Boyolali Pakai Myofascial Release

Atasi Nyeri Leher: Tim Pengabmas Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta Edukasi Warga Boyolali Pakai Myofascial Release

Hadila.co.id – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Fisioterapi, Poltekkes Kemenkes Surakarta, melaksanakan kegiatan Pengabmas di Kelurahan Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.

Kegiatan ini dilaksanakan selama April–Juli 2026, dengan mengusung tema “Implementasi Pemberian Myofascial Release dalam Upaya Penurunan Nyeri Leher Otot Upper Trapezius.

Usia harapan hidup merupakan salah satu indikator kesehatan secara nasional. Semakin tinggi usia harapan hidup, maka akan memberikan dampak kepada usia lansia yang semakin besar.

Kondisi kesehatan masyarakat yang dapat mengakibatkan keterbatasan aktivitas salah satunya adalah nyeri leher. Nyeri leher termasuk permasalahan yang sering ditemukan di masyarakat.

Keluhan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan usia. Semakin tinggi usia harapan hidup, maka akan memberikan dampak yang berarti pada keluhan nyeri leher. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan keterbatasan aktivitas, dan produktivitas pun menurun.

Myofascial release adalah salah satu cara untuk mengurangi keluhan nyeri leher dan dapat meningkatkan kemampuan fungsional individu. Kegiatan Pengabmas ini sasarannya pada Kader Posyandu dan masyarakat wilayah desa binaan di Kelurahan Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.

Tujuan dilakukan kegiatan Pengabmas ini untuk mengetahui cara penanganan sederhana dalam upaya penurunan nyeri leher pada otot upper trapezius, sehingga masyarakat dapat melakukannya secara mandiri jika mengalami keluhan nyeri leher pada otot tersebut.

Teknik pemberian myofascial release harus disertai dengan stretch pada fascia. Hal ini dilakukan untuk memanjangkan komponen fascia atau otot tanpa adanya ketegangan yang dapat membuat kesulitan penetrasi. Selain itu, dapat juga dilakukan stretch secara terlokalisir menggunakan anchor satu tangan atau dengan tangan yang lain.

Reseptor stretch ketika posisi otot dipanjangkan semaksimal mungkin, sehingga otot akan terstimulasi dan berkontraksi. Hal ini sangat baik untuk memulai teknik terapi, di mana jaringan fascia ter-stretch ditambah dengan adanya pembebasan pada akhir gerakan stretch yang rileks, sehingga memberkan input neurologic yang baik terhadap reseptor stretch untuk membantu program learning terhadap disfungsi pemendekan.

Myofascial release dibagi menjadi tiga teknik, meliputi direct myofascial release, indirect myofascial release, dan selfmyofascial release.

Demonstrasi Myofascial Release

Metode pelaksanaan kegiatan Pengabmas melalui beberapa tahap, yaitu: (1) Pertemuan pertama, mengidentifikasi permasalahan dilakukan dengan FGD bersama perangkat desa, bidan desa, dan kader posyandu kesehatan.

(2) Pertemuan kedua dilakukan penyuluhan tentang nyeri leher, faktor penyebab, tanda, dan gejala kepada kader Posyandu, (3) Pertemuan ketiga melakukan penyuluhan dan demonstrasi tentang penanganan sederhana yang dapat dilakukan oleh kader dalam mengurangi nyeri leher pada otot upper trapezius.

(4) Pertemuan keempat, tim Pengabmas melakukan pendampingan kader Posyandu ke masyarakat tentang upaya penurunan nyeri leher pada otot upper trapezius, (5) Masyarakat melakukan latihan sesuai yang diajarkan untuk mengurangi keluhan nyeri pada otot upper trapezius.

(6) Di akhir kegiatan, dilakukan evaluasi, yaitu dengan pemberian kuesioner serta tanya-jawab langsung kepada masyarakat, dan didapatkan hasil peningkatan pengetahuan pada kader Posyandu dan masyarakat dalam upaya penurunan nyeri leher pada otot upper trapezius.

Secara umum, dalam kegiatan Pengabmas ini tidak ada kendala yang berarti, dan kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan.

Salah satu kendala adalah penyesuaian waktu pelaksanaan dengan jadwal dan aktivitas masyarakat, karena sasaran utama adalah masyarakat di semua usia.

Oleh sebab itu, diperlukan koordinasi yang lebih intensif dengan pemerintah desa dan kader Posyandu kesehatan untuk menentukan waktu yang tepat agar tingkat kehadiran peserta tetap optimal.

Selain itu, terdapat variasi tingkat pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerima materi edukasi, sehingga tim pengabdi perlu menyampaikan materi dengan bahasa yang lebih sederhana, menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta memanfaatkan media edukasi dan alat peraga agar materi lebih mudah dipahami.

Pada pelaksanaan evaluasi, beberapa peserta memerlukan pendampingan dalam mengisi instrumen pretest dan post-test, karena keterbatasan kemampuan membaca maupun memahami pertanyaan.

Kendala tersebut dapat diatasi dengan pendampingan langsung oleh tim pengabdi dan kader kesehatan tanpa memengaruhi objektivitas proses evaluasi.

Meskipun terdapat beberapa hambatan teknis, seluruh kendala dapat diatasi melalui koordinasi yang baik antara tim pelaksana, pemerintah desa, kader kesehatan, dan peserta, sehingga kegiatan dapat terlaksana sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Kami ucapkan terima kasih kepada (1) Poltekkes Kemenkes Surakarta, yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, (2) Pemerintahan di Kelurahan Tegalgiri, Nogosari, Boyolali, (3) Kader Posyandu dan masyarakat di Kelurahan Tegalgiri, Nogosari, Boyolali, serta (4) seluruh elemen pendukung terlaksananya kegiatan Pengabmas ini. <>

Ibnu
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos