fbpx

Mengejar Kakbah

Mengejar Kakbah

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).

 

Lantunan kalimat talbiyah kembali menggema. Jutaan manusia dari segala penjuru dunia akan kembali berkumpul di Kota Suci, Mekah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. Memenuhi panggilan Ilahi untuk menyempurnakan pelaksanaan rukun Islam kelima.

Ibadah haji merupakan salah satu puncak ibadah seorang muslim. Ibadah ini menuntut pengorbanan harta, jiwa, raga, dan juga waktu dari seorang muslim. Tak ayal, tidak semua muslim pada akhirnya berkesempatan menunaikan ibadah haji. Maka hanya kalimat syukur yang pantas terucap kehadirat Allah Swt, ketika seorang muslim berkesempatan menunaikan ibadah haji ketika masih hidup.

Pada saat haji itulah, seolah hilanglah semua status manusia. Semua orang dari kelas ekonomi manapun, dari golongan atau ras apapun akan berkumpul menjadi satu untuk melaksanakan ritual yang sama. Tak ada pembedaan antara yang kaya dan miskin, tua atau muda. Semua berbalut kain putih demi mengharap rida Ilahi. Tak ada lagi yang pantas disombongkan ketika manusia melaksanakan ibadah haji.

Momen spesial ini tentu menjadi dambaan hampir semua muslim. Tak ayal, banyak orang yang berusaha untuk “mengejar” Kakbah. Banyak orang yang berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Ya, karena haji memiliki banyak keutamaan yang insya Allah berbalas surga bagi yang bisa meraih kemabruran haji.

 

Kewajiban Berhaji

Ketua Kelompok Bimbingan Haji (KBH) Mandiri Surakarta, Bambang Nugroho Putro, S.P mengungkapkan dalam rukun Islam, mengunjungi Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji masuk ke dalam poin yang kelima. Ini menunjukkan bahwa ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dalam sejarahnya, perintah untuk berhaji sudah ditetapkan Allah Swt sejak zaman Nabi Ibrahim As. Kemudian pada zaman Rasulullah Saw, syariat tersebut disempurnakan.

Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah…” [H.R. Bukhari]. Hadis ini menunjukkan bahwa semua perintah Allah seperti salat, puasa, membaca Alquran, menutup aurat, dan lain-lain—termasuk haji dan umrah, mudah untuk dilaksanakan. Maka sebagai umat Islam, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakannya.

“Ada orang-orang yang telah diberi kemampuan oleh Allah, tetapi ada pula orang-orang yang belum diberi kemampuan. Ini adalah tugas kita untuk berusaha, berikhtiar semaksimal mungkin, memperbanyak doa, cita-cita, dan harapan kepada Allah,” ungkap Bambang saat dijumpai di kediamannya di daerah Cemani, Grogol, Sukoharjo beberapa waktu lalu.

Menurutnya, semua kebaikan dalam agama adalah keharusan. Oleh sebab itu, dalam hal ibadah haji, semua umat muslim—baik yang hidup kaya, pas-pasan, atau bahkan miskin, harus memiliki azam untuk melaksanakannya. Semuanya harus diawali dengan niat tulus dan ikhlas yang diwujudkan dalam doa-doa, ilmu yang ditingkatkan, dan terus berikhtiar. “Misalnya dengan rutin menabung Rp 100.000 per bulan untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika ada niat, pasti ada jalan. Saya sering menjumpai orang-orang yang diberi kemampuan dan kemudahan oleh Allah untuk melaksanakan apa yang telah diusahakan, padahal jika dipikir secara logika tidak masuk akal,” ujarnya.

 

Tips Agar Bisa Berhaji

Selanjutnya, Bambang mengungkapkan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seseorang supaya dia bisa menjalankan ibadah haji. Menurutnya, ada lima poin penting yang perlu diterapkan. Pertama, niat. Rasulullah Saw bersabda, “Amalan seseorang itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuatu sesuai niatnya…” [H.R. Bukhari Muslim]

Ibadah haji harus diniatkan semata-mata demi meraih rida Allah Swt. Bukan karena niat lainnya misalnya untuk mendapatkan gelar haji atau menaikkan status sosial.

Kedua, memperbanyak ilmu. Ini sangat penting, sebab kadang ada orang yang ingin berhaji—dia sudah lama menabung, lama mengantre, tetapi bekal ilmunya kurang. Misal, ada orang yang ingin berangkat haji, tetapi belum bisa membaca Alquran. Ada juga yang belum mengerti beberapa hal tentang syariat. Orang-orang dengan kondisi seperti ini harus belajar dulu, sebab ketika seseorang sudah berada di Tanah Suci, dia akan memiliki waktu yang amat banyak untuk melaksanakan ibadah. “Jika ilmu kita masih kurang, maka ibadah-ibadah pun tidak bisa maksimal. Orang yang berilmu, akan berbeda dengan orang yang tidak berilmu,” ujar Bambang.

Ketiga, memperbanyak doa (untuk diri sendiri), sebab doa adalah inti ibadah kita kepada Allah, dan Allah berjanji akan mengabulkan doa.

Keempat, mendoakan orang lain, sebab mendoakan orang lain secara rahasia (orang yang kita doakan tidak tahu jika didoakan), termasuk doa yang akan diijabah/dikabulkan oleh Allah.

Eni Widiastuti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat