Konsep Kompetisi Ramah Anak, Kompetisi untuk Bersenang-senang

Hadila.co.id Saya termasuk yang ambigu tentang kompetisi. Saya hanya sekali mengikuti kompetisi penulisan; lomba cerpen majalah Annida. Walau punya banyak materi cerpen dan novel, mengikutkan tulisan pada lomba tidak menjadi penting. Karena bagi saya, pembaca juri terbaik. Namun lomba semacam pidato, English speech contest, puisi, cerdas cermat, PMR sering saya ikuti. Sebagian menang sebagian kalah.

Lomba ini bagi saya bagus untuk melatih kepercayaan diri, konsentrasi, fokus dan manajemen emosi. Sejak berdiri di belakang panggung, kita telah berlatih konsentrasi. Di panggung, kita berlatih percaya diri. Saat mulai menyampaikan (apapun), kita berlatih fokus pada materi. Saat menerima kemenangan atau kekalahan pun, adalah latihan menghargai lawan. Latihan calon pemimpin, bagi saya.

Waktu yang Tepat untuk Memperkenalkan Kompetisi pada Anak

Saat di Inggris, memahami pola pendidikannya yang berbeda jauh dengan Indonesia, saya akhirnya memiliki perspektif yang berbeda. Di Inggris tidak ada ujian kenaikan kelas. Tidak ada rapor dengan sistem ranking, melainkan laporan tertulis naratif tentang anak. Misal; tentang matematika, Muhammad tidak diberikan nilai angka, tapi seperti ini, ‘Muhammad sudah menguasai perkalian 100, menguasai operasi pembagian. Saat ini Muhammad menggunakan buku level 4’.

Di Inggris juga tidak ada cerita anak tinggal kelas. Mau sejelek apapun nilainya, dia akan naik kelas. Hanya saja, biasanya dia akan ditempatkan di meja ‘low table’ (semoga ini nama yang benar). Bayangkan ruang kelas dengan 4 meja besar. Anak duduk sesuai dengan pembagiannya dan belajar sesuai kemampuannya. Andai meja yang ini pun sulit dia ikuti, maka dia masuk murid berkebutuhan khusus, ada tambahan sesi dengan bimbingan khusus.

Bachtiar
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat