Aksi Nyata untuk Tanamkan Karakter Pada Anak

Aksi Nyata untuk Tanamkan Karakter Pada Anak

Hadila.co.id — “Taburlah gagasan maka engkau akan menuai perbuatan. Taburlah perbuatan maka engkau akan menuai kebiasaan. Taburlah kebiasaan maka engkau akan menuai karakter. Taburlah karakter maka engkau akan menuai nasib.” Pernyataan tersebut bukanlah teori semata sebab kenyataannya memang demikian.

Karakter adalah unsur terpenting yang lebih utama daripada pengetahuan, keterampilan, kekayaan, maupun kesehatan.

“If we lost wealth, we lose nothing. If we lost health, we lose something. If we lost character, we lose everything”

Karakter bukanlah sesuatu yang bisa dijejalkan kepada siswa melalui kata-kata, karakter hanya bisa ditanamkan melalui pembiasaan melakukan kegiatan yang positif.

Dalam diri manusia, termasuk pelajar, ada 2 potensi yakni potensi berbuat baik dan potensi berbuat buruk. Menjadi tanggung jawab bersama antara orangtua, guru, masyarakat, dan pemerintah untuk mengembangkan potensi baik dalam diri pelajar.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana mengembangkan potensi (karakter) baik tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memberi kesempatan berbuat baik dan membiasakan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kejahatan ada karena adanya niat dan kesempatan, maka kebaikan pun juga karena adanya niat dan kesempatan.

Salah satu cara konkret yang dapat dilakukan untuk menanamkan karakter positif pada diri siswa adalah dengan mengajak mereka melakukan aksi sosial, baik berupa aksi donor darah, bakti sosial, membantu korban bencana alam, penanaman sejuta pohon, maupun mengajak mereka untuk berbagi dengan para duafa dan anak yatim.

Menanamkan karakter akan lebih efektif jika pelajar/siswa dilibatkan langsung dalam berbagai aksi sosial. Dengan begitu pelajar bersentuhan langsung dengan kehidupan di masyarakat. Mereka melihat, merasakan, meresapi, dan secara sadar ikut andil dalam mengatasi persoalan di masyarakat. Tidak sekadar tahu mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk.

Jangan sampai anak-anak kita menjadi manusia yang punya mata, tetapi tidak melihat; punya telinga, tetapi tidak mendengar; punya pikiran, tetapi tidak bisa memecahkan masalah; punya hati, tetapi hati itu tak pernah tergerak untuk beramal. [Oleh: Giyato, Guru SMAN 1 Karanganyar]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos