Hadila – Asalamualaikum, Ustazah. Apa yang harus dilakukan saat mendapat mimpi? Bolehkah menceritakannya? Apakah mimpi itu bisa jadi pertanda sesuatu? Bolehkah memercayai hal-hal seperti ini? Soalnya saya pernah mimpi sesuatu, dan setelahnya benar-benar terjadi. [Lia, Sragen]
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Masalah mimpi memang sering kali membingungkan kita. Islam sudah memberi panduan yang jelas tentang mimpi, baik mimpi baik maupun buruk.
Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa kabar gembira tersebut?’ Beliau menjawab, ‘Mimpi yang baik.’” [H.R. Bukhari no. 6990]
Dalam riwayat Abu Hurairah Ra yang lain juga disebutkan: Sesungguhnya Nabi Saw bersabda, “Apabila telah datang waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Dan mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian.” [H.R. Bukhari, no. 7017 dan Muslim, no. 2263]
Macam-macam mimpi dan cara menyikapinya
Rasulullah Saw menjelaskan bahwa mimpi ada tiga macam. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Mimpi itu ada tiga: mimpi baik (ru’ya salihah) sebagai kabar gembira dari Allah, mimpi dari setan untuk membuat sedih, dan mimpi yang muncul dari bisikan jiwa seseorang.” [H.R. Bukhari no. 6499, Muslim no. 4200]
Pertama, mimpi baik (ru’ya shalihah hasanah), yaitu jika seseorang bermimpi hal yang ia sukai. Mimpi ini datang dari Allah dan itu suatu nikmat. Karena jika ia bermimpi seperti itu, ia jadi semangat dan gembira. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi Saw, “Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.”
Mimpi baik boleh diceritakan, tetapi hanya kepada orang yang dipercaya atau orang yang mencintai kita, agar tidak ditafsirkan dengan buruk. Dari Abu Qatadah Ra: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Mimpi yang baik berasal dari Allah, maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi hal yang disukainya, janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang disukainya dan bila dia bermimpi buruk, maka mintalah perlindungan dari kejahatannya dan dari kejahatan setan dan jangan menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya.” [Muttafaq ’alaih]
Dari Abu Sa’id Al Kudri Ra bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Apabila salah seorang kamu bermimpi hal yang disukainya, sesungguhnya itu berasal dari Allah, ucapkan Alhamdulillah dan ceritakanlah.” [H.R. Bukhari]
Kedua, mimpi buruk. Mimpi ini baiknya tidak diceritakan dan yang bermimpi harus bersabar. Salah satu terapi dari mimpi seperti ini adalah membaca ta’awudz, yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan.
Dari Jabir Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka meludahlah ke kiri 3 kali, dan ucapkan: A’uudzu billahi minas syaithaan (aku berlindung kepada Allah dari setan) 3 kali, lalu ubah posisi tidurmu semula.” Dalam riwayat lain, bila salah seorang kamu bermimpi buruk, maka bangkitlah dan salat. [H.R. Muslim]
Dari Jabir Ra, seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku bermimpi sepertinya leherku dipenggal. Maka Nabi tertawa, dan bersabda, “Apabila setan mempermainkan salah seorang di antara kalian dalam tidurnya maka janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun juga.” [H.R. Muslim]
Ketiga, mimpi biasa yang tidak ada maksud apa pun. Biasanya itu cuma bisikan jiwa atau suatu pikiran yang akhirnya terbawa dalam mimpi.
Apa yang harus dilakukan saat mendapat mimpi?
(1) Mimpi baik: Ucapkan Alhamdulillah, boleh diceritakan pada orang yang saleh dan kita percayai.
(2) Mimpi buruk: Meludah kecil ke kiri 3 kali (tanpa ludah keluar), membaca isti’adzah (A’uudzu billahi minas syaithaanirrajiim), jangan ceritakan pada siapa pun, boleh pindah posisi tidur atau salat jika sangat mengganggu.
Apakah mimpi bisa jadi pertanda?
Ya, mimpi baik kadang bisa jadi basyirah (kabar gembira) dari Allah. Namun, tidak semua mimpi adalah wahyu atau pertanda masa depan. Wahyu sudah terputus setelah wafatnya Nabi Saw. Jadi, kalau kita pernah bermimpi lalu benar-benar terjadi, itu adalah kehendak Allah, bukan berarti setiap mimpi harus ditafsirkan sebagai tanda pasti. Mimpi hanya salah satu bentuk kabar gembira, bukan sumber hukum atau ramalan masa depan. Wallahu a’lam bish-shawwaab. <>
Naskah pernah dimuat di rubrik Konsultasi Syariah, Majalah Hadila Edisi 221, September 2025 (Rumah Tangga Tanpa Cinta)
Diasuh oleh: Ustazah Nursilaturrohmah Lc., Dosen Ma’had Abu Bakar Putri




















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *