Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 5)

Wasiat Allah Sepanjang Masa (Bagian 5)

Hadila.co.id — “Katakan (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. Janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat sampai dia dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, maka bicaralah dengan adil sekalipun dia adalah kerabatmu dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Allah memerintahkanmu agar kamu ingat.’ Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka, ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan lain yang akan menceraiberaikanmu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkanmu agar kamu bertakwa.”

[Q.S. Al-An‘am (6): 151-153]

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, berikut tiga lagi wasiat yang akan menjamin keberadaan takwa dalam diri manusia sehingga akan membuat kita terjauh dari jalan kesesatan dan perpecahan.

8. Berkata adil kepada setiap orang (dalam menetapkan hukum di antara mereka)

Berlaku adil dalam segala keadaan kepada setiap orang merupakan perkara wajib. Berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar serta tidak ada dispensasi maupun uzur. Tentunya, perlakuan adil di sini adalah secara zahir dan dalam batas-batas kemanusiaan.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Q.S. Al-Maa’idah (5): 8]

Namun, tidak berarti keadilan selalu identik dengan hukum. Sehingga, hanya mereka yang bersangkutan dengan hukum saja seolah yang wajib berkata dan berlaku adil. Perlakuan adil semestinya menjadi perhiasan dalam setiap sikap dan tindakan manusia. Suami berlaku adil kepada istri dan sebaliknya, orang tua kepada anaknya dan sebaliknya, dan seterusnya.

Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, dan kerabatmu. Jika terdakwa itu kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Karenanya, jangan kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, ketahuilah Allah Mengetahui segala hal yang kamu kerjakan.” [Q.S. An-Nisaa’ (4): 135]

9. Memenuhi janji kepada Allah Swt

Memenuhi janji kepada Allah Swt diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah-Nya (baik yang wajib maupun yang sunah) serta meninggalkan segala larangan-Nya. Barang siapa telah memenuhi hak Allah Swt atasnya, niscaya Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal akan usahanya itu. Dan, barang siapa yang menyia-nyiakannya, niscaya Allah Swt. pun akan menyia-nyiakan dirinya.

Allah Swt berfirman, “Sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Allah berfirman, ‘Aku bersamamu.’ Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Namun, siapa pun yang kafir setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” [Q.S.Al-Maa’idah (5): 12]

10. Mengikuti jalan Allah Swt yang lurus

Abdullah bin Mas‘ud Ra berkata, “Rasulullah Saw pernah menggambar sebuah garis lurus, kemudian beliau berkata, ‘Ini adalah jalan Allah Swt’. Setelah itu, beliau (kembali) menggambar beberapa garis melenceng di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut. Beliau berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan melenceng. Tidak satu pun dari jalan tersebut, melainkan padanya ada setan yang senantiasa memanggil.’ Selanjutnya, beliau membaca ayat Allah Swt. ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’” Wallahu a‘lam. <selesai>

[Oleh: Ustaz Dr Aam Amiruddinn, M.Si. | Dimuat Hadila Edisi September 2014]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos