Tak Perlu Takut Pasca Pensiun, dalam Islam Tak Ada Pensiun

Tak Perlu Takut Pasca Pensiun, dalam Islam Tak Ada Pensiun

Hadila.co.id Tak ada kata pensiun dalam Islam, yang ada adalah menjadi muslim yang matang. Pensiun dalam islam seharusnya tidak membuat seorang muslim menjadi seseorang yang tidak produktif. Justru sebaliknya pensiun dalam Islam seharusnya membuat muslim memiliki banyak waktu untuk melakukan hal lain terutama beribadah pada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana tidak yang biasanya waktu kita habis untuk bekerja, setelah pensiun kita memiliki banyak waktu untuk tetap produktif. Kita bisa berwirausaha, berdagang, bercocok tanam, atau bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selain itu yang sebelumnya kita kekurangan waktu untuk mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta’ala, setelah pensiun kita memiliki banyak waktu untuk membaca Alquran, mengamalkan salat sunnah, menghadiri majelis ilmu, dll.

Tips Puasa untuk Penderita Tekanan Darah Rendah

Istilah pensiun biasanya merujuk pada selesainya masa bekerja pada instansi tertentu baik negeri maupun swasta. Sehingga usia pensiun (50 tahun keatas) sering dimaknai sebagai usia-usia istirahat (tidak produktif). Hal ini tidak tepat. Tak ada kata pensiun, apalagi sebagai seorang muslim.

Hal ini jelas terlihat dalam kehidupan teladan kita Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Di usia 51 beliau berhijrah dan mulai membangun peradaban Islam di Madinah. Rasulullah Saw tak pernah berhenti, hingga beliau wafat.

Usia 50 tahun keatas, bisa dibilang usia matang, kaya akan pengalaman masa lalu yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk tetap produktif. Agar tidak merugi, karena tidak mengisi ‘sisa’ umurnya dengan baik. Agar tidal su’ul khotimah karena tidak berbekal. Baik bekal amal maupun materi. Karena sebagian amal saleh perlu di dukung dengan materi.

Hadist Dhaif Keutamaan Bulan Ramadan, Popular tapi Munkar

Dalam perspektif Islam, pensiun itu ditandai kematian. Islam tidak mengenal masa pensiun kecuali datangnya ajal. Sehingga sebagai seorang muslim, kita harus memiliki etos kerja tak terbatas usia. Islam meminta umatnya untuk kerja dengan itqon (profesional).

Allah berfirman; “Dan Katakanlah, ’Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’ [Q.S. At-Taubah (9):105]. Dalam firman yang lain: “Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keahlianmu, sesungguhnya Aku  bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.”[Q.S. Az-Zumar: 39]. Begitupun bisa disimak dalam firman-firman Allah pada Q.S. Al Isra (17): 84, Q.S. Al Fushilat (41): 5 dan Q.S. Al Mulk: 2

Bahkan, Islam juga mengukur produktivitas dengan karya  yang nilainya atau usia manfaatnya lebih panjang daripada usia kita. Sehingga walaupun kita sudah ‘hancur termakan tanah’, kemanfaatannya terus dirasakan, pahalanya tetap mengalir sampai kiamat. Bersifat investatif. Ini memunculkan konsep khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Tetap Produktif Pasca Pensiun, Tetap Berpenghasilan dan Terhindar dari Barbagai Penyakit

Bachtiar
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat