fbpx

Munculkan Sakinah, Getarkan Mawaddah, dan Ciptakan Rohmah Dalam Keluarga yang Matang

Munculkan Sakinah, Getarkan Mawaddah, dan Ciptakan Rohmah Dalam Keluarga yang Matang

Hadila.co.id — Saya, ibu rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai eksekutif pada sebuah BUMN. Saat ini, sebagai seorang istri, saya merasa mendapat tuntutan yang lebih besar, karena karir suami sedang menanjak. Saya harus dapat menyesuaikan diri dengan posisi suami. Padahal, secara akademis saya tidak ada apa-apanya dibanding dia. Pendidikan saya cuma SLTA. Karena itu, saya merasa tidak mampu mengimbangi posisi suami. Akibatnya, saya merasa akhir-akhir ini suami bersikap dingin pada saya. Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan?

Kutipan konsultasi di atas, adalah kegelisahan seorang istri atas kesadaran adanya tuntutan untuk bisa menyejajarkan diri dengan suami. Karena bagaimana pun perubahan yang terjadi sebagai sebab dari tuntutan tersebut, telah memengaruhi pola hubungan mereka dalam keluarga. Kutipan tersebut sekadar memberikan gambaran, bahwa kegelisahan itu nyata dan permasalahan seperti itu ada dalam realitas kehidupan.

Perubahan adalah niscaya. Wajar, mengingat manusia adalah makhluk dinamis yang terus bergerak dan berkembang seiring waktu. Tidak dapat dicegah, tetapi bisa ‘diikuti’. Begitu pun dalam sebuah keluarga (suami-istri). Seiring waktu, perubahan-perubahan peran, karir, tanggung jawab, aktivitas, kematangan intelektual, pemikiran, pengalaman, kedewasaan, dan bahkan ruhiyah dapat terjadi. Perubahan atau sebut saja proses ‘tumbuh’ tersebut akan memengaruhi pola hubungan dan ritme berkeluarga.

tumbuh bersama pasangan 2

Tumbuh Bersama Pasangan, Sumber: freepik.com

Tumbuhnya salah satu anggota keluarga secara mencolok bisa menjadi masalah tersendiri jika tidak diimbangi oleh anggota keluarga yang lain. Suami atau istri dengan karir yang melejit, pergaulan yang makin luas, wawasan yang makin beragam, pengalaman yang makin kaya tentu membuatnya berubah dalam banyak hal. Keterampilan menangani masalah, pola berpikir, kebutuhan, cara berkomunikasi, penampilan, harapan, cara pandang, akan cenderung menyesuaikan pada peran yang disandangnya. Hal tersebut mesti bijak disikapi oleh pasangan. Karena bisa jadi keluarga yang tadinya harmonis menjadi disharmonis karena perubahan tersebut.

Harmonis Seiring Dinamis

Keluarga yang tumbuh dinamis adalah sebuah berkah. Berarti keluarga tersebut ‘hidup’. Karenanya perubahan apa pun, pantas disyukuri kemudian diarahkan bagi dinamisnya keluarga. Tumbuhnya diri suami atau istri memunculkan kebutuhan untuk menyelaraskan langkah agar tetap harmonis.

Ibarat roda kendaraan yang berputar, menuju ke arah yang sama, untuk mendapatkan sebuah pergerakan yang baik. Kadang yang satu mengawali pergerakan, menjadi patokan bagi langkah selanjutnya. Kemudian, tak lama roda yang lain mengikuti dan bergerak bersama secara harmonis. Salah satu cerdasnya seorang istri adalah saat dia bisa mengimbangi suami dalam berbagai hal. Sedangkan terdidiknya seorang istri, adalah baiknya seorang suami. Simpulannya, cerdasnya istri adalah suksesnya suami. Saat suami berada di posisi yang mengawali bertumbuh, istri bersegera mengikuti. Begitu pun saat istri di posisi yang mengawali, suami bersegera mendampingi.

Saat karir suami meningkat, istri bisa mengimbangi dengan memperluas wawasan. Mengetahui seluk beluk bidang suami, mengasah kemampuan bersosialisasi, memperbaiki/ menyesuaikan penampilan dengan suami, serta mengembangkan potensi lain agar bisa sebanding dengan suami. Begitu pun sebaliknya jika istri yang mendahului. Sehingga suami-istri akan selalu nyambung, menjadi teman diskusi, sahabat terbaik, tangan kanan kepercayaan, saling menjadi rujukan dan tempat ‘bersandar’.

Bersama Berencana

Seimbang, sebanding, tidak melulu harus sama. Dalam bahasan ini, kemajuan karir, peran atau tingkat pendidikan suami/ istri tidak melulu harus diimbangi dengan up grade karir dan pendidikan pula. Meski hal tersebut bisa saja dilakukan. Proses penyeimbangan pada dasarnya harus sesuai dengan karakter keluarga. Membuka diri dengan pola komunikasi sederhana, mengungkap harapan masing-masing terhadap pasangan, merupakan langkah awal yang baik. Jangan sampai harapan menjadi laten, tidak terkomunikasikan namun berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari. Bisa jadi jika pasangan kita tahu harapan-harapan kita terhadapnya, ia justru terpantik untuk ‘meninggi’ tumbuh menjulang mengiringi kita.

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat