fbpx

Membangun Kekayaan Jiwa

Membangun Kekayaan Jiwa

Keenam, kekayaan materi hanya akan mempersulit hisab dan mengurangi kenikmatan di akhirat. Rasulullah Saw. bersabda,“Ibnu Adam membenci sedikit harta, padahal sedikit harta lebih memperingan hisab.” [HR. Ahmad]

Ketujuh, kekayaan seringkali menyeret pemiliknya ke dalam dosa dan menjerumuskannya ke dalam api neraka. Rasul Saw bersabda,“Apakah mungkin seseorang yang berjalan di air lalu kedua kakinya tak basah oleh air? “ Mereka menawab, “Tak mungkin, Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Begitu juga pemilik harta dunia, dia tidak akan selamat dari dosa-dosa.” [HR. Baihaqi]

Kedelapan, kekayaan materi adalah kekayaan yang diapit kefakiran sebelumnya dan kefakiran setelahnya. Seorang Muslim yang bijak hendaknya tidak terkecoh oleh kekayaan materi sebagai tujuan akhir hidupnya.

Tingkatan Kekayaan Jiwa

Kekayaan jiwa adalah kekayaan yang diapit oleh dua kekayaan yaitu kekayaan hati dan kekayaan rabani. Siapa pun yang dapat meraihnya, dia tidak akan pernah menjadi miskin selama-lamanya. Tiga jenis kekayaan menurut Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah.

Pertama, kekayaan hati. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan hati, dan kefakiran adalah kefakiran hati.” [HR. An-Nasa’i]. Untuk meraih kekayaan hati, kita harus merealisasikan syaratnya yakni selamat dari ketergantungan pada sebab dan merasa tenteram dengan Allah; tunduk dan pasrah pada hukum dan ketentuan Allah; dan terbebas dari sikap permusuhan.

Kedua, kekayaan jiwa. Rasul Saw bersabda, “Akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Syarat yang harus direalisasikan untuk meraih kekayaan jiwa yakni keistimewaan dalam menjalankan syariat; selamat dari belenggu syahwat; dan terbebas dari niatan riya’.

Ketiga, kekayaan rabani. Yaitu kekayaan karena membutuhkan Allah semata sebagai tingkatan kekayaan yang tertinggi karena kefakiran kita kepada Allah adalah kekayaan yang sejati. Kekayaan rabani ini memiliki tiga tingkatan yakni, menyaksikan penghormatan Allah kepada kita; senantiasa menyaksikan keagungan Allah; dan meraih kebahagiaan dengan wujud Allah.

Seorang muslim hendaknya mengerahkan segenap upayanya untuk meraih kekayaan hati, kekayaan jiwa, dan kekayaan rabani ini, karena semua itu adalah kekayaan yang tinggi. Sedangkan kekayaan materi hanya kekayaan yang rendah, sehingga kita hendaknya mampu menjadikannya sebagai sarana untuk meraih kekayaaan yang hakiki dan lebih besar dari itu.

[Penulis: Fakhruddin Nursyam, Lc. Penulis buku Trilogi Arbain: Tarbawiyah, Da’awiyah, dan Ruhiyah. Dimuat di Majalah Hadila Edisi Maret 2017]

Taufik
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat