fbpx

Jika Penguasa Bumi Khusyuk, Penguasa Langit Merahmati

Jika Penguasa Bumi Khusyuk, Penguasa Langit Merahmati

Hadila.co.id — Andalus beruntung memiliki perpaduan antara ulama sesaleh Mundzir bin Said Al Baluthi dengan pemimpin sehebat dan sesaleh Abdurahman An Nashir. Duet 11 tahun yang menghasilkan puncak kebesaran dan kemakmuran Andalus.

Menjelang akhir pemerintahan An Nashir (350 H), terjadi kekeringan. Abdurahman An Nashir memerintahkan Hakim Mundzir agar memimpin salat istisqo’ (minta hujan). Pada hari pelaksanaan, masyarakat sudah berkumpul. Namun, Khalifah Abdurrahman belum kunjung datang. Hakim Mundzir mengirimkan utusan kepada Khalifah Abdurrahman untuk segera ke lapangan.

Utusan itu kemudian ditanya oleh Hakim Mundzir, “Seperti apa keadaan Khalifah saat kau tinggalkan?”

“Tidak pernah aku melihatnya lebih khusyuk kepada Allah melebihi hari ini. Dia menyendiri, memakai pakaian kasar, menangis mengakui dosanya, Ini ubun-ubunku di tangan-Mu. Apakah Engkau azab rakyat karena aku? Engkau Hakim paling adil. Tak ada yang terlewatkan dari-Mu tentang diriku.’ jawab utusan.

Mendengar itu, Hakim Mundzir dengan yakin memberi jaminan, “Demi Allah, kalian akan dihujani. Nak, bawa payung. Allah telah mengizinkan untuk turunnya hujan.”

Sangat berani Hakim Mundzir memberi jaminan pasti hujan. Padahal sampai zaman teknologi canggih hari ini saja, tak ada yang berani memberi jaminan akan turun hujan. Karena hujan diturunkan atas kehendak-Nya, murni di dalam genggaman Allah.

Hakim Mundzir berani ‘memastikan’, karena ada sunnatullah fil kaun (aturan Allah di semesta ini). Inilah ilmu di balik keyakinannya, Hakim Mundzir berkata, “Jika penguasa bumi khusyuk, penguasa langit merahmati.”

Khotbah dimulai. Hakim Mundzir membaca, “‘Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).’ Tuhan-mu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Q.S. Al An’am (6): 54]

Dia terus mengulang-ulangi ayat tersebut. Masyarakat mulai menangis dalam tobat, kembali kepada Allah. Keadaan seperti itu terus berlangsung hingga mereka dihujani dan pulang berjalan di genangan air.” [Tarikhul Islam oleh Adz Dzahabi, Al Kamil fit Tarikh oleh Ibnul Atsir, Al Bidayah Wan Nihayah oleh Ibnu Katsir]

Inilah perpaduan antara ulama rabbani, ahli ilmu yang ikhlas, dengan pemimpin besar yang saleh. Ulamanya menjaga kesalehan diri dan masyarakatnya dengan ilmu dan iman. Pemimpinnya menangis melihat keadaan menyedihkan yang menimpa masyarakatnya.

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat