fbpx

Di Inggris, Tidak Ada Rapor dan Sistem Ranking

Di Inggris, Tidak Ada Rapor dan Sistem Ranking

Hadila.co.id — Saya termasuk yang ambigu tentang kompetisi. Saya hanya sekali mengikuti kompetisi penulisan; lomba cerpen majalah Annida. Walau punya banyak materi cerpen dan novel, mengikutkan tulisan pada lomba tidak menjadi penting. Karena bagi saya, pembaca adalah juri terbaik. Namun lomba semacam pidato, english speech contest, puisi, cerdas cermat, PMR, sering saya ikuti. Sebagian menang sebagian kalah.

Lomba ini bagi saya bagus untuk melatih kepercayaan diri, konsentrasi, fokus, dan manajemen emosi. Sejak berdiri di belakang panggung, kita telah berlatih konsentrasi. Di panggung, kita berlatih percaya diri. Saat mulai menyampaikan (apapun), kita berlatih fokus pada materi. Saat menerima kemenangan atau kekalahan pun, adalah latihan menghargai lawan. Latihan calon pemimpin, bagi saya.

Saat di Inggris, memahami pola pendidikannya yang berbeda jauh dengan Indonesia, saya akhirnya memiliki perspektif yang berbeda. Di Inggris tidak ada ujian kenaikan kelas. Tidak ada rapor dengan sistem ranking, melainkan laporan tertulis naratif tentang anak. Misal; tentang matematika, Muhammad tidak diberikan nilai angka, tapi seperti ini, ‘Muhammad sudah menguasai perkalian 100, menguasai operasi pembagian. Saat ini Muhammad menggunakan buku level 4’.

Di Inggris juga tidak ada cerita anak tinggal kelas. Mau sejelek apapun nilainya, dia akan naik kelas. Hanya saja, biasanya dia akan ditempatkan di meja ‘low table’ (semoga ini nama yang benar). Bayangkan ruang kelas dengan 4 meja besar. Anak duduk sesuai dengan pembagiannya dan belajar sesuai kemampuannya. Andai meja yang ini pun sulit dia ikuti, maka dia masuk murid berkebutuhan khusus, ada tambahan sesi dengan bimbingan khusus.

Ujian hanya 2 kali selama 6 tahun di SD. Itu juga tidak ada kaitannya dengan sekolah lanjutan apa yang bisa mereka masuki. Karena bisa atau tidaknya masuk sekolah tergantung dari ‘rayon’. Jika rumah masuk wilayah tangkapan sekolah, maka anak itu berhak masuk ke sana. Semakin jauh, semakin sedikit kesempatan masuk. Nilai rumah akan melejit jika sekolah di sana bagus, karena orangtua akan mencoba pindah ke dekat sekolah terbaik di negeri itu. Dengan demikian mereka menjadi murid yang lebih berbahagia.

Mereka tetap berlatih berkompetisi, tetapi hanya untuk having fun. Berupa kompetisi skill seperti spelling bee dan swim competition. Bagi saya, sistem ini jauh lebih ramah pada jiwa anak karena anak sejatinya dalam periode bermain, menikmati masa kecilnya, bukan stres memikirkan sekolah apa yang mungkin menerima mereka nanti. [Oleh: Maimon Herawati, Dosen Universitas Padjadjaran, Bandung. Pernah tinggal di Inggris. | Dimuat dalam Hadila Edisi Juli 2014]

Redaksi
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat