Dalam Hidup Ini, Apa Saja yang Perlu Dimuhasabahi?

Dalam Hidup Ini, Apa Saja yang Perlu Dimuhasabahi?
Sumber gambar: pixabay.com

Hadila.co.id – Muhasabah diri itu memang penting, tetapi dalam hidup ini apa saja yang perlu dimuhasabahi? Spiritualitas manusia kadang naik, kadang turun. Seringnya, kehidupan dunia melalaikan manusia hingga lupa pada untuk apa ia diciptakan. Karena itu perlu senantiasa bermuhasabah, salah satunya dengan mengingat kematian. Berikut wawancara kami dengan Andie Kusuma Brata, Motivator dan Trainer Spiritual Building, mengenai menyimak kematian sebagai bagian dari membangun spiritual.

Bagaimana urgensi muhasabah bagi seorang manusia?

Introspeksi diri (muhasabah) perlu dilakukan. Karena setiap kita tidaklah senantiasa dalam keadaan baik. Muhasabah merangkum cara, waktu, kegiatan ketika kita mencoba melihat (scanning) diri kita sendiri secara utuh.

Muhasabah (dari kata hisab) artinya menghitung. Maka bentuknya adalah menghitung kesalahan, mengabsensi amalan, mencatat kemajuan kualitas, mengevaluasi, serta memperbaiki.

Yang kurang baik di-upgrade, yang tidak baik dibuang (cleaning), yang belum ada di ‘install’.

Adapun metodologinya bisa bermacam-macam: tadabur, zikir, istigasah, banyak membaca, dan lain-lain. Bahkan diskusi panel pada halaqoh tertentu juga bisa jadi sarana muhasabah.

Hal apa saja yang sebenarnya perlu dimuhasabahi?

Sebenarnya, apa saja yang perlu dimuhasabahi dalam hidup ini hanya cukup satu hal saja, yaitu kesadaran terhadap tugas kita sebenarnya di dunia ini, yaitu menyembah dan menghamba pada Allah. Mengembalikan fungsi diri pada fitrah sebagai hamba Allah.

Landasannya pada Alquran Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Hampir di setiap sesi Spiritual Bulding Training (SBT) ada sisi muhasabah, dengan teori-teori kontemporer yang ‘terhubung’ dengan firman Allah (Alquran) sebagai sumber hukum.

Di situ kami mengajak peserta untuk alert, ngeh, sadar ingin melihat diri yang sebenarnya.

Bagaimana dengan ‘menyimak’ kematian, sebagai salah satu metodologi dalam bermuhasabah?

Kebanyakan kita terlena melakukan tindakan perbaikan, lalai untuk berhati-hati karena lupa bahwa semua ada batas umurnya. Tidak akan mengganti sebelum sesuatu itu rusak.

Busi motor, tidak diganti kalau belum mogok. Orang giat olahraga ketika mulai sakit. Baru sadar mengenai kebutuhan menjaga makanan, saat mulai berumur atau merasa ada sesuatu yang tidak balance dalam tubuh.

Kalau selalu ingat bahwa segala sesuatu ada umur dan waktunya, orang pasti akan bersiap. Mengingat kematian adalah kunci muhasabah. Menundukkan kembali kepada tujuan kita, menghentikan segala nafsu kesombongan, amarah, hasrat yang tidak baik.

Orang-berani melakukan hal-hal buruk dan menyimpang karena dia lupa bahwa dia bisa mati. Sehingga mengingat kematian dan kehidupan setelahnya, jauh lebih tepat dari muhasabah apa pun.

Terkadang ‘pesan’ kematian hanya berefek sejenak, mengapa demikian?

Karena lingkungan tidak mendukung. Bedakan ghiroh orang-orang di pondok pesantren atau di Tanah Suci, di mana spiritualitas terus terjaga.

Tidak ada godaan dunia, juga karena hanya ‘menyediakan’ diri untuk beribadah. Saat training SBT, banyak yang menangis tersadarkan. Namun saat kembali kepada rutinitas harian, pekerjaan, dihadapkan pada uang tak bertuan, pertarungannya menjadi luar biasa.

Ibnu
AUTHOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat