7 Pilar Pengasuhan Anak di Era Digital Ala Elly Risman (Bagian I)

7 Pilar Pengasuhan Anak di Era Digital Ala Elly Risman (Bagian I)
Elly Risman mengisi seminar parenting yang digelar Al Azhar Syifa Budi, Solo, di Hotel Harris Solo, Sabtu (2/2).

Hadila.co.id – Ada tujuh (7) pilar pengasuhan anak agar tangguh di era digital yang disampaikan pakar parenting nasional, Elly Risman, saat mengisi seminar parenting yang digelar Al Azhar Syifa Budi, Solo, di Hotel Harris Solo, Sabtu (2/2).

Pertama, kesiapan menjadi orang tua. Hal itu dimulai dengan mengenal lebih jauh pasangan, mengetahui bagaimana pola pengasuhan pasangan. Selanjutnya menyelesaikan innerchild yang mempengaruhi seluruh peran dan cara mengasuh anak. Elly  mengatakan banyak orang tua masa kini yang mengasuh anak dengan mengadopsi bagaimana cara dia diasuh orang tuanya. Padahal tidak semua pola pengasuhan orang tua terdahulu itu baik.

“Jika mungkin ada di antara kita yang dulu dididik dengan cara kasar, sering dikata-katain yang tidak baik, dicap jelek, mari maafkan orang tua kita. Maafkan beliau yang mungkin dulu belum tahu ilmunya. Ayolah, hentikan mata rantai pengasuhan anak yang salah. Kini, kita asuh anak kita dengan cara yang baik,” ujarnya.

Elly meminta para orang tua bertekad untuk lebih baik dalam pengasuhan anak. Pahami cara kerja otak yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Perbaiki peran dan tanggung jawab sebagai suami istri dan sebagai ayah ibu.

Kedua, dual parenting/mengasuh berdua. Ayah dan ibu adalah lelaki dan perempuan pilihan Allah Swt yang dipercaya untuk dianugerahi dan dititipkan-Nya anak. Maka tanggung jawab utama mendidik dan mengasuh anak, adalah di tangan ayah dan ibu. Bukan sekolah, apalagi pembantu. “Kesibukan orang tua bukan alasan untuk mengalihkan tanggung jawab pengasuhan anak kepada baby sitter. Ayah dan ibu tetap harus yang mengasuh, bukan orang lain. Sadari pentingnya peran kedua orang tua dalam pengasuhan anak-anak,” tegasnya.

Kedua orang tua, harus punya kesepakatan dalam mengasuh anak. Ada pembagian tugas pengasuhan anak, dan sosok ayah harus terlibat dalam pengasuhan sehari-hari. Menurut penelitian dari Harvard University, anak dari ayah yang terlibat dalam pengasuhan, dia akan menjadi sosok yang suka menghibur ketika dewasa, harga dirinya tinggi, berprestasi, dan pandai bergaul. Menurut Ellison, C, Coltraine, St. Aubin, ketika ayah terlibat dalam pengasuhan, maka dapat membina relasi, lebih efisien, lebih mampu memperhatikan hal-hal detail, lebih fokus, lebih cerdas, lebih waspada, penuh perhatian, lebih sabar, tidak terlalu gelisah, lebih penolong, dan lebih alim.

“Sayangnya yang terjadi di masyarakat, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sangat minim. Padahal sebenarnya tidak butuh waktu lama. Ketika ayah mengantar sekolah, jangan hanya duduk di mobil, turunlah sebentar, sampaikan kata-kata positif sambil dielus-elus kepala anak perempuannya atau ditepuk-tepuk pundak anak laki-lakinya. Itu sudah cukup menggantikan ketiadaan ayah selama beberapa jam di sekolah,” terangnya.

Studi Henry Biller menyebutkan, kontak ayah dan anak di Amerika Serikat setiap hari, kurang dari 20 menit sepekan. Di rumah tangga yang ada kedua orang tua, 25% kontak ayah-anak rata-rata satu jam. Search Institute of Minneapolis menyebutkan 20% dari anak-anak kelas VI-XII, hanya punya kesempatan 10 menit bicara baik-baik dengan orang tuanya sepanjang bulan. “Itulah kenapa sejak lama saya katakan bahwa Indonesia adalah fatherless country. Negara yang sangat minim keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Banyak ayah berpikir bahwa tugas utamanya hanya mencari nafkah dan menyerahkan tugas pengasuhan hanya kepada ibu. Itu salah,” tegasnya.

Lantas apa akibatnya jika sebenarnya ada sosok ayah tapi dia tak terlibat dalam pengasuhan anak? Elly Risman menyebutnya sebagai “ber-ayah ada  ber-ayah tiada”, maka anak akan mengalami fatherless syndrome; temper trantum; kehilangan rasa aman; fisik, emosi, dan psikologis buruk, agresif; rentan peer pressure; cenderung suka sejenis dan bisa menjadi broken home, rentan cerai/bunuh diri.

Menurut hasil penelitian tesis Dian Karim, kurangnya peran ayah pada anak laki-laki bisa menyebabkan anak tersebut menjadi nakal, agresif, terkena narkoba, dan seks bebas. Sementara kurangnya peran ayah pada anak perempuan bisa mengakibatkan anak depresi dan melakukan seks bebas.

Eni Widiastuti
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

WhatsApp chat